Warung Rawon Jami’ah Tetap Maknyus Meski Jadul

Warung Rawon Jami’ah Tetap Maknyus Meski Jadul

Warung legendaris ini pernah tutup selama sepuluh tahun. Tapi setelah itu, pengelola warung bisa bangkit. Dengan resep sejak awal yang tidak pernah berubah, para pelanggan benar-benar dibuat ketagihan. Ketika waktu liburan, pengunjungnya banyak dari Bandung, Jogjakarta, hingga Bali.

 [spacer height=”20px”]

 

Pengunjung tidak henti-hentinya datang pada Rabu (3/8) lalu. Mayoritas yang berkunjung ke warung di Jalan Panglima Sudirman, Kota Batu ini adalah warga luar kota yang sedang lewat atau melancong di kota wisata tersebut. Hal ini terlihat dari banyaknya mobil yang terparkir berpelat nomor L dan AG. [spacer height=”20px”]

Selain tempatnya yang strategis karena ada di jantung kota, para pengunjung datang karena warung tersebut memang legendaris dan rasanya yang maknyus. Warung Rawon Jami’ah berdiri sejak 1950 silam. Dengan demikian, sudah 66 tahun warung ini memanjakan para kelana rasa. Baik dari dalam dan luar Kota Batu. [spacer height=”20px”]

Sejak dibuka pukul 06.00 hingga 15.30 WIB, para pengunjung tidak pernah sepi. Untung, warung ini cukup luas yakni 20×10 meter, sehingga para pembeli tidak perlu berjejal. Pengunjung mayoritas memesan rawon meski ada beberapa menu lain seperti soto daging, krengsengan, dan rendang. [spacer height=”20px”]

Warung ini sekarang dikelola oleh Silvia Rika Wulandari. Saban hari, dia ditemani lima pegawai untuk mempersiapkan makanan bagi pengunjung. ”Saya generasi ketiga pengelola warung ini,” kata perempuan 37 tahun itu. [spacer height=”20px”]

Sesuai namanya, pendiri warung ini adalah Jami’ah yang tak lain nenek Silvia. Pada 66 tahun silam, Jami’ah ingin membantu keuangan keluarga. Karena dia mempunyai keahlian memasak rawon, maka dia membuka warung. Ketika itu, warung ini langsung kondang dan banyak pembelinya. Namun, sepuluh tahun setelah berdiri atau pada 1960, warung ini sempat tutup. Tutupnya sangat lama, yakni sepuluh tahun. ”Karena waktu itu ada masalah keluarga. Itu alasannya tutup kalau tidak salah,” imbuh perempuan asli Malang ini. [spacer height=”20px”]

Setelah itu, pada tahun 1970, warung ini kembali buka. Kali ini yang meneruskan masih tetap Jami’ah tapi dia lebih banyak dibantu suaminya, Mat Jebuk. Ketika itu Jami’ah hanya bantu-bantu saja, karena tenaga yang sudah tidak kuat akibat usia. Warung ini dibuka lagi karena alasan ekonomi keluarga yang sulit, dan masih minimnya warung ketika itu. ”Dibuka lagi karena melayani sopir, jadi bukanya jam tiga pagi sampai habis,” imbuh Silvia. [spacer height=”20px”]

Anak dari pasangan Triandi Juma’in-Hartatik Indah Susanti tersebut menambahkan, sejak ‘lahir kembali’ itulah, pelanggan rawon ini yang datang kurang lebih 150 orang tiap hari. Alasan para pelanggan datang, menurut dia, karena sajian rawon tidak pernah berubah sejak pertama kali buka. Bahkan, meski pernah tutup selama sepuluh tahun. Ciri khas rawon di sini adalah dagingnya yang empuk, penuh rempah-rempah, dan kuahnya yang kental. Ketika menggigit dagingnya, perpaduan daging dan rempah-rempah cukup pas dan maknyus. ”Orang-orang suka ya karena ciri khas semua itu,” ucapnya. [spacer height=”20px”]

Baru tahun 1980, warung ini dilanjutkan oleh generasi kedua, Hartatik Indah Susanti, yang tak lain ibu Silvia. Di tangannya ibunya, masakan di warung tersebut tidak pernah berubah resep. Hanya saja, ketika Hartatik membuat masakan baru, ada saja pelanggan yang tertarik dengan masakannya.(irr/riq)

sumber: radar malang

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *