SEKOLAHAN INI PERNAH JADI LOKASI PEMBANTAIAN

SEKOLAHAN INI PERNAH JADI LOKASI PEMBANTAIAN

MALANG KOTA – Tim napak tilas bunker di tengah kota, mulai menyisir lokasi lain. Usai mengungkap sisi lain sejarah dibangunnya bunker di RT 9, RW 4, Kelurahan Bareng, Kecamatan Klojen, Kota Malang, kemarin (27/2), tim napak tilas Jawa Pos Radar Malang kerja bareng Pemerintah Kota (Pemkot) Malang itu meninjau bangunan bawah tanah di aula SMAN 4 Malang.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Malang, di bawah aula SMAN 4 terdapat bunker. Lokasinya tepat di bawah panggung aula bersama. Biasanya, aula itu digunakan untuk kegiatan siswa SMAN Tugu. Mulai dari siswa-siswi SMAN 1, SMAN 3, dan SMAN 4.

Tiba di lokasi pukul 10.00, Jawa Pos Radar Malang bersama Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Malang dan empat komunitas sejarah menuju lokasi bunker tersebut. Tepat di bawah panggung aula, terdapat ruang yang tertutup kayu. Pintu lorongnya hanya berdiameter satu meter.

Tapi setelah pintu berbahan kayu itu dibuka, di bawahnya terdapat ruangan berukuran sekitar 6×6 meter. Ruangan tersebut tersekat menjadi empat ruang. Ukuran masing-masing ruangan bervariasi. Lebar lorong pertama sekitar 1 meter; lorong kedua 1,4 meter; lorong ketiga 1,85 meter; dan lorong keempat sekitar 1,6 meter. Tinggi atapnya sekitar 110 sentimeter dari permukaan tanah. Di ujung ruangan sisi utara terdapat 7 lubang untuk ventilasi udara yang berdiameter sekitar 50 sentimeter.

Anggota TACB Kota Malang Budi Fathony tidak bisa memastikan apakah bangunan di bawah panggung aula SMAN 4 tersebut termasuk bunker atau bukan. ”Untuk memastikannya, sebaiknya sampah dibersihkan dulu,” kata Budi, beberapa saat usai masuk lorong tersebut.

Di lorong itu memang banyak sampah. Meski petugas kebersihan sekolah mengaku sudah membersihkannya, tapi masih banyak sampah. Diduga, sampah tersebut berasal dari siswa-siswi saat menggelar kegiatan di aula.

Budi menceritakan, gedung SMAN 4 dibangun sekitar tahun 1921 silam. Pada zaman pemerintahan Belanda, sekolah itu bernama Hollandsch-Inlandsche School (HIS). Kemudian saat penjajahan Jepang, lorong itu sempat juga dijadikan tempat tahanan. Bahkan, konon banyak yang dieksekusi. ”Dulu banyak bercak darah di lantai ini,” kata dosen Planologi Institut Teknologi Nasional (ITN) tersebut.

Sekretaris TACB Kota Malang Agung H. Buana juga tidak bisa memastikan apakah lorong tersebut tergolong bunker atau bukan. Sekilas, dia melihat lorong tersebut sebagai bangunan panggung yang dibuat oleh pemerintah Belanda.

”Tidak ada lorong yang mengarah ke balai kota. Sebab, saat kami cek bersama, lorong itu mentok di SMAN 4,” terang Agung yang juga kasi Pemasaran Bidang Pariwisata di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Malang tersebut. (lil/c2/dan)

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *