Menthok Pedas Primadona di Jalur Lintas Barat Kabupaten Malang

Menthok Pedas Primadona di Jalur Lintas Barat Kabupaten Malang

Menu menthok (unggas sejenis angsa tapi kakinya pendek) disajikan pedas sebuah warung bernama Nayamul (kebalikan dari lumayan), sejak 2006 lalu. Meski cabang kedua, warung ini justru memiliki pelanggan paling banyak padahal baru satu tahun didirikan. Ada beberapa level pedasnya sesuai pilihan konsumen.    

Pemilik warung, Siti Muflidah, 50, yang berhasil membuat Warung Nayamul menjadi ramai dikunjungi orang. Awalnya, karena ketidaksengajaan Muflidah bikin warung. ”Gara-garanya karena jual motor, terus yang beli tidak bisa bayar penuh. Akhirnya, ditukar sama kontrakan yang akhirnya dibuat warung yang lokasinya dekat Stadion Kanjuruhan,” kata Junaedi Abdillah, anak kedua pemilik warung.

Warung itu tidak langsung ramai. Karena pasang surut terus dilalui. Waktu itu, belum ada menu menthok pedas yang dijual. Hanya ada ayam bakar yang disajikan. Warung ini sempat kalah bersaing dengan warung lain yang menyajikan menu ayam bakar mengingat menu itu sudah umum dijual banyak warung.

Justru menu menthok pedas yang akhirnya jadi penyelamat warung. Di tengah pelanggan yang mulai sepi, Siti Muflidah iseng membuat menu baru tiga tahun setelah warung berdiri. Yaitu, menthok yang dibumbui kare pedas. ”Waktu itu menu menthok pedas masih jarang. Dan tergolong unik juga. Itu yang menarik pelanggan untuk datang,” kata dia.

Seiring berjalannya waktu, menu yang dijual mulai harga Rp 12 ribu per potong daging mentok tersebut bisa mendatangkan banyak keuntungan. Dalam sehari, di cabang jalibar yang memiliki pelanggan paling banyak bisa menghabiskan 10–15 ekor menthok per hari. Itu belum termasuk lauk pendampingnya seperti tempe, sate usus, bakwan, dan masih banyak lagi menu lainnya.”Hasilnya lumayan. Sekarang punya warung di jalibar dan setengah tahun lalu buka lagi di Bululawang,” lanjut pria 30 tahun ini. Kini, menthok pedas pun jadi tumpuan keluarga besar Siti Muflidah. Dia dibantu tiga anaknya dalam mengelola warung.

Pengunjungnya sudah ratusan orang per hari. Saat jam makan, baik sarapan, makan siang, maupun malam, area parkir dipenuhi belasan mobil. Mayoritas mobil-mobil itu berasal dari luar kota. Karena jalibar kerap dilalui masyarakat dari luar kota. Itu tak lain karena lokasi warung yang strategis ditunjang dengan kenikmatan menu menthok pedas bumbu kare yang disajikan.

mentok pedes-kulinerBagi pecinta kuliner pedas, level pedas menu menthok di Warung Nayamul ini dikatakan sedang. Pengelola warung ini sengaja membuatnya tidak superpedas. Karena jika terlalu pedas, dikhawatirkan membuat pelanggan sakit perut.

Meski levelnya sedang, aroma cabe di kuah kare yang kental sebenarnya sudah tercium dari dekat. Dalam satu hari, setidaknya ada tiga kilo cabe rawit yang disiapkan, untuk dicampurkan dalam kuah kare plus 10–15 ekor menthok. Itu belum termasuk cabe tambahan untuk pelanggan yang meminta level lebih pedas. (iw/c1/lia)

Olahan Pas, Daging Empuk

Daging menthok dikenal lebih alot ketimbang daging hewan lainnya. Tapi, di Warung Nayamul, daging menthok yang disajikan tidak terlalu a lot, karena dimasak dengan suhu dan waktu yang pas.

Yuniarsih, karyawan sekaligus kasir Warung Nayamul mengatakan kalau juru masak di bagian dapur sudah berpengalaman mengolah daging menthok. ”Waktu masih awal, kadang terlalu lama memasaknya sampai dagingnya jadi kayak bubur. Pernah juga terlalu sebentar sehingga masih alot. Tapi, sekarang sudah pas,” katanya.

Perempuan asli Kepanjen ini menambahkan, untuk memasak daging menthok membutuhkan waktu satu jam. Tidak boleh lebih atau kurang. Karena itu mempengaruhi alot tidaknya daging. ”Setelah dimasak baru dicampur ke kuah kare dan cabe,” lanjut dia.

Namun, jika Anda memesan menthok goreng, dagingnya jelas lebih alot ketimbang yang dicampurkan dalam kuah kare (menthok pedas). Itu efek dari pengolahan dengan cara digoreng cukup kering. Meski alot, jika disantap dengan sambal dan lalap yang disediakan di setiap meja rasanya tetap mantap. ”Kalau ditambah dengan kuah dari masakan lain juga cocok, kok,” kata perempuan yang akrab disapa Yuni ini.

Di setiap meja, warung ini sudah menyediakan sambal bajak dan lalapan gratis, sehingga pembeli bisa mengambil sepuasnya untuk melengkapi menu yang diambil prasmanan.
Salah satu pelanggan yang ditemui Jawa Pos Radar Malang Endah Pratiwi mengatakan sangat doyan makan menthok di warung ini. selain karena olahannya pas, menurut perempuan asal Blitar ini, daging mentok memiliki rasa yang gurih. ”Gurihnya sepadan dengan perjuangan kita mengunyah dagingnya yang lebih alot daripada daging ayam,” katanya. (iw/lia)

Digemari Pengunjung Luar Kota

Keberhasilan inovasi menu menthok pedas membuat pengelola Warung Nayamul ketagihan menyajikan menu baru. Setelah memiliki total belasan menu, kini mereka memiliki target dalam satu tahun paling tidak ada dua menu baru yang disajikan.

Sebenarnya cukup lama waktu yang ditentukan untuk memunculkan menu baru. Tapi, jika terlalu sering ada menu baru, justru akan membuat pengunjung bingung. Karena terlalu banyak menu yang disajikan. ”Karena cukup lama untuk mengeluarkan menu, jadi menu baru itu harus yang spesial,” kata Junaedi Abdillah, anak kedua dari pemilik Warung Nayamul.

Saat ini, sudah ada beberapa menu tambahan seperti ikan wader goreng, dan aneka bothok. Meski menu itu masih kalah tenar dari menthok pedas, tapi tidak sedikit yang mengambil menu baru itu untuk lauk pendamping menthok pedas. ”Kami juga dengarkan saran pelanggan juga mereka ingin tambah apa lagi. Saran yang paling banyak itu yang akan dibikinkan menu barunya,” ujar mantan karyawan pabrik rokok ini.

Selain menu baru, warung ini juga terus memperbaiki konsep warung. Terutama untuk cabang di jalibar, warungnya dikonsep terbuat dari bambu dan memiliki banyak jendela, sehingga suasana di dalamnya terasa lebih sejuk. Selain itu, ada juga area lesehan di samping kanan. Meski hanya ada empat meja di area lesehan, tapi tempat itu cukup jadi favorit.  (iw/lia)

sumber: radar malang

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *