MALANG RAYA TERMACET KEEMPAT DI ASIA ?

MALANG  RAYA TERMACET KEEMPAT DI ASIA ?
Kemacetan di depan Pasar Lawang

MALANG KOTA Problem kemacetan lalu lintas di Malang Raya tak luput dari pantauan dunia internasional. Bahkan, kemacetan di Malang Raya menempati posisi keempat di Asia. Posisi itu berdasarkan hasil riset INRIX,  lembaga survei asal Amerika Serikat yang fokus pada riset lalu lintas jalan. Data tersebut menunjukkan kemacetan di Malang Raya mengalahkan Kota Surabaya yang berada di posisi kesembilan.

Data hasil riset INRIX ini sempat viral setelah dilansir Lokadata, Beritagar.id, beberapa waktu lalu. Dalam penjelasannya, survei INRIX bertumpu pada rata-rata waktu yang dihabiskan oleh pengendara karena terjebak kemacetan dalam setahun.

Dalam penelitian tersebut, untuk negara-negara Asia pada tahun 2016, Bangkok (Thailand) menjadi kota dengan rata-rata paling lama untuk waktu yang terbuang karena macet, yakni 64,1 jam per tahun. Kemudian disusul Jakarta (Indonesia) 55 jam; Bandung (Indonesia) 42,7 jam; dan Malang 39,3 jam. (Selengkapnya lihat di grafis).

Namun, tidak tercantum metodologi pengumpulan data atau kriteria yang menempatkan Malang sebagai kota termacet keempat di Asia. Saat mengakses laman resmi INRIX.com hanya disebutkan bahwa lembaga survei yang berdiri sejak 2004 itu menggunakan metodologi yang komprehensif dalam penanganan masalah transportasi dan kemacetan melalui The INRIX 2016 Score Card. Sayang, tidak dijelaskan seperti apa The INRIX Score Card itu. Tapi, tujuan riset tersebut untuk mengumpulkan data global dan analisis untuk memahami kemacetan lalu lintas dan sebagai landasan perkembangan kota.

Jika Anda mengetik Indonesia, lalu Malang, dalam kolom pencarian di website INRIX, maka akan tertera peringkat dari lokal se-Indonesia, regional atau se-Asia, dan global dari seluruh penjuru dunia. Di Indonesia, Malang menempati peringkat tiga teratas di bawah Jakarta dan Bandung. Disusul Jogjakarta, Medan, Surabaya, Semarang, Denpasar, dan Bogor. Sementara di tingkat global, Malang menduduki peringkat ke-85. Laman INRIX juga membeberkan hasil penelitian transportasi yang dilakukan di 1.064 kota di 38 negara.

Meski di situs tersebut tidak dijelaskan penyebab kemacetan di Malang Raya, tapi jika dicermati hasil survei INRIX tersebut ada benarnya juga. Apalagi jika yang disurvei itu salah satunya jalur Lawang–Singosari yang setiap hari padat dan jadi langganan macet saat weekend. Ditambah lagi membeludaknya volume kendaraan yang tak diimbangi dengan kapasitas infrastruktur jalan bisa diprediksi menjadi salah satu penyebab utama kemacetan di Malang Raya.

Khusus untuk Kota Malang, bisa dikatakan hasil survei INRIX tersebut cukup mengejutkan. Sebab, beberapa waktu lalu, Kota Malang justru mendapat penghargaan Wahana Tata Nugraha (WTN) dari pemerintah pusat untuk kategori lalu lintas dan angkutan.

Saat dimintai tanggapan soal hasil survei INRIX itu, Wali Kota Malang Moch. Anton menyatakan belum mengetahui pemeringkatan itu. Anton masih akan mengecek terlebih dahulu faktor-faktor penilaiannya. ”Saya belum cek (data) itu, tapi pemerintah selalu fokus mencari celah agar kemacetan tidak terjadi. Juga merencanakan adanya monorel sebagai angkutan masal untuk mengurangi kemacetan,” ujar Anton.

Dia mengungkapkan, pemerintah baru saja memediasi transportasi konvensional dan transportasi berbasis online di Malang. ”Jika data itu benar, mediasi ini merupakan momentum yang baik untuk memperbaiki pelayanan angkutan umum,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang Kusnadi ketika dikonfirmasi juga mengaku belum mengetahui data survei INRIX tersebut. ”Itu data dari mana, valid atau tidak? Teman-teman juga bertanya soal itu. Buktinya, lalu lintas lancar-lancar saja,” ujarnya.

Menurut Kusnadi, sistem transportasi di Kota Malang sudah cukup baik. Kondisi ini tecermin dari diterimanya penghargaan Wahana Tata Nugraha (WTN) dari pemerintah pusat di bidang angkutan darat dan lalu lintas pada akhir Januari 2017. ”Saya tidak percaya adanya survei-survei. Orang yang ke Malang itu survei di mana? Buktinya, kami mendapat penghargaan WTN,” tegasnya.

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *