Warung Nasi Campur Gang Buntu, Sederhana tapi Ngangenin

Warung Nasi Campur Gang Buntu, Sederhana tapi Ngangenin

Sederhana, punya ciri khas, dan melestarikan peninggalan leluhur, menjadi tiga hal penting yang dipertahankan Warung Nasi Campur Gang Buntu. Mula-mula warung tersebut berjualan rujak, kemudian diganti menjual nasi campur dengan andalan utama ayam goreng dan sate komoh. Ada satu ciri khas tidak berubah hingga warung ini berumur 34 tahun.

Warung mungil 3×6 meter di sebuah gang buntu di Jalan Zainal Arifin, Kelurahan Kidul Dalem, Kecamatan Klojen ini tidak pernah sepi dari pengunjung, terutama ketika siang hari. Dari ujung gang yang bersebelahan dengan Mie Gloria ini, aroma rempah-rempah sate komoh dan ayam goreng seperti sedang ’memanggil-manggil’ pengunjung.
Tidak ada papan nama di warung tersebut. Warung ini tidak bernama, tapi kebanyakan orang menyebutnya Nasi Campur Gang Buntu. Saban hari warung ini rata-rata menjual 200 porsi nasi campur.
Warung sederhana ini sudah berumur cukup tua, yakni sudah berdiri 34 tahun atau sudah berdiri sejak 1982. Kebanyakan orang yang mengantre saban hari merupakan pelanggan warung tersebut. Mereka seperti ketagihan dengan nasi campur plus lauk pauk favorit Warung Nasi Campur Gang Buntu.
Di tempat ini, best seller-nya adalah ayam goreng yang dinikmati dengan sayur sup. Kerenyahan kulit ayam goreng ditambah dagingnya yang empuk serta bumbu yang meresap, menjadi perpaduan sempurna. Selain ayam goreng, sate komoh juga menjadi buruan. Sate daging dengan bumbu merahnya sangat empuk ketika digigit. Daging yang empuk tersebut bersimbah bumbu rempah-rempah yang lengkap. Tidak sampai di situ, sebagai variasi, juga ada mi kering untuk pendamping sayur urap-urap.
Titik Ariati, salah seorang pemilik warung ini bercerita, pemilik pertama warung tersebut adalah almarhum Riama yang merupakan ibu angkat Titik. Ketika itu, dia berjualan rujak sejak tahun 1970-an. ”Terus ketika itu banyak mahasiswa yang meminta agar ibu berjualan nasi,” kata Titik saat ditemui Jawa Pos Radar Malang, Rabu (17/2) lalu.
Pada awal tahun1982, Riama mencoba usulan tersebut. Ketika itu, ratusan porsi ludes terjual dalam sehari. Salah satu yang membuat warung ini unik, sejak berdiri, semua masakan dimasak menggunakan arang. Tujuan pakai arang, menurut Titik, agar cita rasa lebih nikmat dan menjadi ciri khas warung tersebut. Ketika Riami meninggal sekitar tahun 90-an, ketiga anaknya yakni Titik, Suyanto, dan Kasmiati melanjutkan usaha warung tersebut. ”Kita tetap menggunakan arang,” tambahnya.
Mengenai tempat, dari dulu warung yang mulanya adalah rumah tinggal ini tidak pernah direnovasi. Hanya sekarang ada dua kursi panjang dan dua meja serta beberapa kursi plastik. ”Yang direnovasi cuma tempat untuk cuci piring saja,” kata Titik. Alasan tidak melakukan renovasi ini karena dia dan dua saudaranya ingin menciptakan suasana dan cita rasa dari awal ibunya membuka warung tersebut.
Pada saat awal-awal buka, pelanggan mayoritas pelajar dan mahasiswa. ”Anak kuliah dulu dan sekarang beda. Anak kuliah sekarang lebih senang ke kafe daripada ke warung yang opo onoke (warung apa adanya),” ujar perempuan yang bertempat tinggal tidak jauh dari warung tersebut.
Meski saat ini warung itu ditinggal pelanggan mahasiswanya, saat ini makanan laris dibeli orang-orang kantoran. Bahkan menjadi langganan pegawai negeri sipil (PNS) dari Pemerintah Kota (Pemkot) Malang ketika jam makan siang tiba.
Dian Yanesh, yang sejak 2008 menjadi pelanggan mengatakan, dia diberi tahu oleh temannya jika ada tempat makan enak di gang buntu sebelah Mie Gloria. ”Sejak saat itu saya sering nitip, sekarang beli sendiri,” kata perempuan berkerudung ini.
Seminggu tiga kali dia selalu mengudap makan siang masakan Titik. Dia berpendapat, makanan di warung ini rasanya berbeda dengan yang lain lantaran tetap mempertahankan memasak dengan arang.
Salah seorang pelanggan lain, Erni Batu Bara menambahkan, dia mengaku sering membeli masakan di warung tersebut untuk makan siang. ”Rumah saya di Sengkaling lho, maunya sih saya ke sini setiap hari,” kata perempuan asal Sumatera Utara ini.
Dia berpendapat, cita rasa masakan warung nasi campur tersebut sangat cocok dengan lidah orang Sumatera. Awal pindah ke Malang pada tahun 2011, dia sempat kebingungan mencari tempat makan yang pas dengan lidahnya. ”Setelah diantar teman ke sini, saya cocok sekali,” pungkasnya.(rae shella tivani mareta/c1/riq

sumber : http://radarmalang.co.id/warung-nasi-campur-gang-buntu-sederhana-tapi-ngangenin-31687.htm

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *