Warung Bang Leo, Kuliner Tradisional Khas Arema Jl Trunojoyo, Kecamatan Klojen

Warung Bang Leo, Kuliner Tradisional Khas Arema Jl Trunojoyo, Kecamatan Klojen

Mencari tempat berjualan yang strategis di pusat Kota Malang memang sangat sulit. Butuh uang banyak agar mendapat tempat yang tepat. Warung Bang Leo, salah satu warung makanan tradisional Arema, berusaha eksis meski berada di tempat yang sempit.

 

Nama warung Bang Leo sudah tidak asing lagi di telinga kalangan anggota Polres Malang Kota, karyawan Pemkot Malang, maupun RSSA (Rumah Sakit Dr Saiful Anwar) Malang. Warung makan yang mulai dirintis tahun 1986 ini sudah menjadi jujukan para anggota polisi dan pegawai pemerintah pada pagi maupun siang hari. Berbagai menu tradisional ala rumahan, tersedia di warung makan yang tidak begitu besar ini.

Awalnya, warung ini buka di depan Hotel Kartika Graha dan dirintis oleh Ningsih, 46, dan Leo Kailola, 61. Warga Jl Jagung Suprapto Gang III Kota Malang ini merintis usaha tersebut karena himpitan ekonomi. Kondisi ekonomi rumah tangga yang kurang, membuat Ningsih pun mencoba keterampilan memasaknya.

Belajar dari teman, saudara, dan tetangga, Ningsih pun berhasil membuat berbagai olahan yang menjadi andalan warung. Resep hasil kreativitas sendiri tersebut, dia coba sebagai modal untuk membuka warung makan.

Menu makanan yang disiapkan, mulai sayur sup, bening, sayur asem, urap, dan trancam. Sedangkan, lauknya disiapkan juga di antaranya tempe goreng, tahu, ayam kampung, dan ikan laut. Semua menu dimasak dan mulai buka pada pukul 09.00. ”Dulunya memang coba-coba. Hasilnya, mulai banyak yang berdatangan dan banyak pula yang terus datang hingga menjadi pelanggan,” beber Ningsih.

Mulai tahun 1986 hingga 1992, Ningsih pun mendapatkan banyak pelanggan. Mayoritas pelanggannya dari anggota Polres Malang Kota, pegawai RSSA Malang, pegawai bank, hingga pegawai hotel. Tidak sedikit para pelanggan tersebut memesan makanan yang disiapkan dalam bentuk bungkusan.

Jumlah pesanannya pun beragam. Mulai dari 50 bungkus hingga 500 bungkus. Tergantung pemesanan untuk acara dan kegiatan apa. Sebab, tidak jarang instansi pemerintah dan swasta tersebut sering mengadakan kegiatan yang membutuhkan nasi bungkus yang banyak.

Sejak saat itulah, Warung Bang Leo berkembang pesat. Pelanggan lama maupun baru pun berdatangan. Mereka hanya ingin menikmati makanan tradisional rumahan khas Arema. ”Namanya bondo nekad, menunya seadanya. Eh, ternyata itu yang disenangi,” terang Ningsih sambil tertawa.

Hingga tahun 1992, Ningsih pun diminta pindah karena lokasi yang digunakan untuk berjualan akan dipugar untuk pengembangan usaha. Saat itu, Leo dan Ningsih pun mencari tempat di Jl Brigjen Slamet Riyadi, yang sekarang menjadi Hotel Trio Indah II.

polisi-lapsus-kulinerDi lokasi tersebut, Ningsih hanya bertahan dua tahun lamanya. Pemilik tanah juga akan membangun lahan tersebut untuk kepentingan bisnis. Leo yang mengontrak tempat itu pun akhirnya harus kembali pindah di Jl Basuki Rachmad. ”Walau pindah, pelanggan saya tetap setia. Mungkin lidahnya sudah cocok dengan resep masakan saya,” jelas Ningsih.

Di lokasi Jl Basuki Rahmat tersebut, Ningsih pun akhirnya juga bertahan dua tahun dan harus pindah tempat. Akhirnya, Leo dan Ningsih mendapat tempat di Jl Trunojoyo. Di bangunan milik PT KAI tersebut, Leo kontrak setiap tahunnya.

Di tempat tersebut, Leo pun membangun usaha kuliner hingga kini. Para pelanggan pun masih tetap setia. Kini, pelanggan juga bertambah banyak. Hanya saja karena kekurangan tenaga, masakan yang disiapkan terbatas. Ningsih berusaha belanja hari ini, harus habis hari ini juga. ”Belanja hari ini, ya harus habis hari ini juga. Jadi, masakan akan selalu segar,” jelas Ningsih. (bb/c2/lia)

sumber: radar malang

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *