Soto Duro Markeso, 38 Tahun Beri Sensasi Makan Soto yang Berbeda

Soto Duro Markeso, 38 Tahun Beri Sensasi Makan Soto yang Berbeda

Awalnya Markeso berjualan sate, sebelum akhirnya dia menemukan passion-nya untuk menjual soto. Dengan kuah yang tidak terlalu kental dan berlemak, sudah 38 tahun Markeso memanjakan pelanggannya. Dia mengandalkan ciri khas soto yang sederhana.

 

Enam orang itu tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya pada Rabu (10/2) lalu. Mereka tiba sekitar pukul 09.30 di Soto Duro Markeso di Jalan Taman Slamet, Kelurahan Gadingkasri, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Namun, ketika itu soto milik Mohamad Markeso tersebut sudah ludes.

Selain enam orang itu, ada pelanggan yang rela menyantap soto hanya dengan telur asin saja, tanpa daging dan jeroan yang menjadi salah satu ciri khas soto ini. ”Lha bagaimana, memang sudah habis dan hanya tinggal kuah. Terpaksa jadinya,” terang istri Markeso, Yuli.

Soto Duro Markeso memang jauh dari kesan mewah. Saban hari, Markeso hanya mengandalkan sebuah rombong untuk berjualan di Jalan Taman Slamet yang jaraknya hanya sekitar lima meter dari Taman Slamet. Bahkan, untuk tempat duduk, Markeso mengandalkan trotoar.

Kendati demikian, bagi penggemar soto, jualan sederhana Markeso cukup terkenal, karena soto ini sudah berumur 38 tahun atau sejak tahun 1978. ”Dulu tidak sekolah. Namanya orang zaman dulu, ya tidak sekolah, kerja saja. Jadi saya sudah mulai kerja sejak masih remaja,” kata Markeso, 53, kepada Jawa Pos Radar Malang.

Pria yang gaya bahasanya blak-blakan ini bercerita, dia pertama kali mendapatkan resep soto dari bapaknya, Rasbini yang saat ini sudah berumur 98 tahun. Mulanya Rasbini yang brasal dari Kabupaten Bangkalan, Madura, memulai berjualan soto Madura sejak 1966. Rasbini berjualan di sekitar Kota Malang dengan cara berkeliling memanggul gerobak mini. ”Saya ketika itu baru berumur tiga tahun,” tambahnya.

Ketika mulai beranjak dewasa, Markeso diajari cara untuk berjualan. Termasuk resep dan cara membuat soto. Markeso menuturkan bahwa soto yang dia buat ini menggunakan resep warisan dari bapaknya. ”Jadi ini resep turun-temurun. Mulai dari bapak saya hingga saya,” terang bapak empat anak ini.

Dia menjelaskan, berjualan sejak 38 tahun lalu, Markeso tidak berani mengubah resep dari bapaknya. ”Yang diberi bapak saya ini rasanya sudah enak kok. Jadi tidak usah diubah lagi. Lagipula itu resep warisan, saya tidak berani mengubah,” terang laki-laki yang sering berkopiah ini.

Ciri khas soto resep ayahnya itu, menurut Markeso, adalah tidak begitu kental dan berlemak. Sehingga, ketika kuah soto diseruput, ada rasa kesegaran yang membekas di lidah. Kesegaran kian terasa dengan tambahan jeruk nipis. Selain itu, biasanya Markeso menanyakan apakah pelanggannya memesan soto daging atau campur dengan jeroan seperti babat, usus, dan hati.

Markeso menambahkan, dia sudah bekerja ketika masih berusia 12 tahun atau sekitar tahun 1975. Namun kala itu makanan yang dia jual adalah sate. Berjualan sate selama tiga tahun, Markeso justru tidak menemukan passion. Dia merasa tidak cocok berjualan sate. ”Jualan sate ini capek sekali. Tidak ada diamnya, membakar sate, membumbui, dan menyajikan. Proses paling lama kan membakarnya itu yang membuat capek,” tegas kakek dua cucu ini.

Karena tidak menemukan passion dalam berjualan sate, akhirnya dia mengikuti langkah bapaknya berjualan soto. Ternyata justru dengan berdagang soto, dia menemukan kecocokan. Sebelum menetap di Taman Slamet, dia sempat beberapa kali pindah lokasi.

Dia pernah berdagang di sekitar Simpang Balapan dan Jalan Tenes. Juga sempat di Sawojajar. Akhirnya pada tahun 2006 lalu, dia memutuskan untuk berjualan di Taman Slamet. ”Awalnya ya keliling cari  pelanggan. Mulai di sekitar Ijen hingga Pasar Oro-Oro Dowo. Mungkin sampai lima tahun keliling,” pungkasnya.(Dian Ayu Antika Hapsari/c1/riq)

 

sumber : http://radarmalang.co.id/soto-duro-markeso-38-tahun-beri-sensasi-makan-soto-yang-berbeda-31179.htm

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *