Satpol PP Sikat 233 Reklame Bodong

Satpol PP Sikat 233 Reklame Bodong

Ada 233 papan reklame yang habis masa izinnya akan dirobohkan Satpol PP Kota Malang.  Selain karena masa izinnya habis, juga banyak pemasangan reklame yang melanggar aturan karena didirikan di ruang milik jalan (rumija) atau trotoar.

Ratusan reklame berbagai ukuran tersebut bakal dibongkar satu per satu. Beberapa di antaranya reklame produk rokok di Jalan Sulfat berukuran 4×8 meter; reklame asuransi kesehatan berupa billboard berukuran 5×10 meter di Jalan Basuki Rahmad; reklame minuman kopi di Jalan Merdeka Utara; reklame hotel berukuran 12×6 meter di Jalan Soekarno-Hatta; reklame salah satu brand handphone 8×4 meter di Jalan KH Agus Salim; serta ratusan titik lainnya. Selain melanggar aturan rumija, reklame-reklame berukuran besar itu terdata telah habis masa berlaku izinnya pada 2014–2016 lalu.

Operasi penertiban tersebut dimulai kemarin (13/2). Puluhan personel Satpol PP Kota Malang merobohkan reklame, salah satunya milik Angkasa Sentra Komputer dan Teknologi  di Jalan Ijen. Reklame berukuran sekitar 2×6 meter yang dulunya berdiri di tanah pinggir jalan itu, kini berdiri di trotoar. Sebab, di lokasi tersebut telah dibangun trotoar. Sehingga bagaimanapun posisi reklamenya, tetap dianggap menyalahi aturan.

Plt (Pelaksana Tugas) Kepala Satpol PP Kota Malang Dicky  Haryanto menyatakan, penertiban reklame tersebut merupakan operasi gabungan dengan berbagai satuan kerja perangkat daerah (SKPD) lain. Di antaranya dinas penanaman modal dan pelayanan terpadu satu pintu (DPM-PTSP); badan pelayanan pajak daerah (BP2D), serta dinas perhubungan (dishub). ”Dalam hal penertiban reklame, satpol PP bertindak berdasarkan hasil pendataan dinas-dinas terkait. Selama ini memang kami upayakan pembenahan dan penataan reklame. Terlebih di Jalan Ijen, seharusnya steril dari reklame,” ujar Dicky saat ditemui di sela-sela pencopotan reklame.

Dia menjelaskan, reklame tersebut berada di rumija yang dibangun menjadi pedestrian. Selain itu, pejalan kaki yang melintas juga terganggu karena tiang reklame berada di tengah trotoar. ”Bukan hanya di Jalan Ijen, tapi semua papan reklame yang melanggar aturan, nanti kami tertibkan,” tegasnya.

Pihak satpol PP juga mengimbau agar para pengusaha memindahkan atau membongkar reklamenya secaramandiri jika merasa telah habis masa izin maupun melanggar aturan rumija. ”Kalau masih belum mau membongkar sendiri, akan kami bantu pencopotannya,” lanjut dia.

Usai membongkar reklame di Jalan Ijen, satpol PP akan bergerak ke ruas Jalan Veteran. Menurut Dicky, di sana juga terdapat beberapa reklame yang melanggar aturan. Dalam sehari, pihaknya akan membongkar 2–3 reklame besar, bergantung pada ukuran dan material reklamenya. ”Kami juga melihat cuaca dan kondisi lalu lintas agar tidak menimbulkan kemacetan,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala DPM-PTSP Jarot Edy Sulistyono di sela-sela pembongkaran reklame di Jalan Ijen, mengimbau agar para pemilik maupun pengusaha yang reklamenya sudah habis masa berlakunya harus segera memperpanjang izin. ”Kalau data yang masuk ke kami, 233 reklame ini seharusnya sudah registrasi ulang karena masa izinnya sudah habis. Selain itu, sebagian besar juga menempati daerah terlarang,” terang Jarot.

Menurut dia, berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No 20/prt/m/2010 tentang Pedoman Pemanfaatan dan Penggunaan Bagian-Bagian Jalan, pendirian tiang reklame harus berjarak jarak paling sedikit 1 meter dari tepi luar bahu jalan atau trotoar.

Namun bisa jadi, kata dia,  saat reklame tersebut didirikan belum ada pelebaran jalan. Menurut Jarot, pengusaha reklame mesti memerhatikan juga perkembangan jalan di lokasi reklame. Sehingga bisa saja dulu sebelum ada pembangunan tiang reklame, dianggap tidak melanggar. Kemudian setelah ada pembangunan jalan, akhirnya dianggap melanggar. Nah, untuk itu pemilik reklame juga harus mengerti. Sehingga mereka bisa memindah posisi reklame dengan sukarela. ”Selain izin yang diperbarui, bangunannya juga disesuaikan. Harus tetap sesuai aturan,” tegasnya.

Pemilik Angkasa Sentra Komputer dan Teknologi  sempat menolak saat reklamenya di Jalan Ijen  dibongkar dan diangkut Satpol PP Kota Malang. Mereka merasa selama ini taat membayar pajak dan memiliki izin. ”Sudah ada izinnya. Tapi kami sudah mendapat penjelasan satpol PP tadi (kemarin). Ya, mau bagaimana lagi,” ujar salah satu karyawan Angkasa Sentra Komputer dan Teknologi Diana Rahmawati, usai bertemu dengan pihak pemkot.

Sebelumnya, dia sempat memprotes pencopotan itu. Diana juga menunjukkan stiker tanda taat pembayaran pajak yang terpasang di depan kantornya. Saat ditanya soal izin, Diana mengaku masih harus mencari tahu dulu. ”Izin pendirian reklamenya ada. Hanya saja soal batasannya, coba nanti kami cek dan konfirmasi dulu,” pungkasnya.(lil/c2/lid)

 sumber: http://radarmalang.co.id/satpol-pp-sikat-233-reklame-bodong-62528.htm

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *