Rujak Mak Tun, Kikilnya Maknyus

Rujak Mak Tun, Kikilnya Maknyus

Setelah berhenti menjadi pengasuh bayi, Maatun, 65, belajar membuat rujak ulek. Dia diajari kakaknya, (alm) Jumaati yang sudah lebih dulu berjualan rujak. Akhirnya pada 1980, Maatun pun sudah berjualan rujak ulek. Lokasi warungnya persis di belakang Puskesmas Bululawang, Jalan Stasiun, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang.

Menuju warung rujak Mak Tun ini memang tidak begitu sulit. Meski lokasinya tidak berada di tepi jalan besar, penggemar rujak Mak Tun tetap rela parkir di tepi jalan besar. Rujak legendaris yang sudah eksis sejak tahun 1980 ini berada tepat di belakang Pasar Bululawang.

Agar benar-benar sampai ke lokasi warung rujak, harus ditempuh dengan jalan kaki atau kendaraan roda dua. Sebab, mobil tidak masuk ke jalan warung rujak. Warung rujaknya ada di tengah tanah kosong yang luasnya tidak seberapa. Tidak ada papan nama untuk warung ini. Namun penduduk sekitar sudah tahu nama dari kuliner legendaris ini. Warungnya sederhana dengan bangunan semipermanen bercat paduan hijau dan cokelat. Luasnya mungkin hanya sekitar 4×5 meter saja.

Melayani pembeli

Melayani pembeli

Warung ini didirikan oleh Maatun, 65, sejak 35 tahun yang lalu. Perempuan yang akrab disapa Mak Tun ini menjelaskan, awalnya dia bukanlah seorang penjual rujak. Tapi, menjadi pengasuh bayi dan asisten rumah tangga, di rumah salah satu tetangganya tidak jauh dari tempat dia tinggal. ”Saya jadi pengasuh bayi tidak lama. Mungkin sekitar tiga tahun saja,” terang Mak Tun, saat ditemui pada Selasa (10/11) lalu, sambil terus mengulek bumbu rujak untuk pelanggannya.

Merasa kecapekan dengan pekerjaan sebagai asisten rumah tangga dan pengasuh bayi, akhirnya sekitar tahun 1980-an, Mak Tun memutuskan untuk berhenti. Bingung ingin membuka usaha, membuat perempuan yang sudah menjanda empat tahun ini memilih untuk belajar membuat rujak kepada salah satu kakaknya, (Alm) Jumaati. ”Kakak saya lebih dulu jualan rujak. Kemudian saya juga ikut belajar dagang rujak,” terangnya.

Setelah menguasai ’ilmu’ rujak-merujak, akhirnya Mak Tun membuka usahanya sendiri. Awal mulanya, dia membuka usaha kuliner itu juga tidak jauh dari tempatnya mendirikan warung sekarang. Hanya berjarak sekitar lima meter saja. ”Dulu masih warung tenda, sekarang sudah warung seperti sekarang,” ujar dia.

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *