Realisasi KPR Mikro Masih Terkendala Ketersediaan Lahan

Realisasi KPR Mikro Masih Terkendala Ketersediaan Lahan

Kini masyarakat berpenghasilan tidak tetap juga bisa memiliki rumah, yakni dengan pembiayaan kredit pemilikan rumah (KPR) mikro. Dengan bunga sebesar 7,25 persen, mereka sudah bisa memiliki hunian dengan harga Rp 50 juta. Namun, nampaknya warga Malang masih perlu bersabar untuk bisa menikmati fasilitas kredit rumah murah tersebut. Pasalnya, saat ini bank yang memfasilitasi program tersebut masih melakukan koordinasi dengan pihak pengembang yang menyediakan perumahan dengan harga murah. Yakni Bank Tabungan Negara (BTN).

Branch Manager BTN Malang Ricky RS Patinggi mengatakan, untuk program KPR mikro ini pihaknya sedang menjalin komunikasi dengan pengembangnya. Dia menambahkan, KPR mikro ini harapannya agar bisa menjangkau masyarakat yang lebih rendah lagi. “Tentu yang dimaksud yaitu ketersediaan unit rumah baru seharga Rp 50 juta. Nah itu dimana. Ini yang harus kami koordinasikan terlebih dahulu,” ujarnya.

BTN sendiri, lanjut Ricky, sebenarnya sudah siap. “Produknya sudah ada, kalau sumber dana juga kami tidak pernah merasa kekurangan. Tapi kan kebutuhan masyarakatnya ini yang sedang kami koordinasikan dengan pihak penyedia, dalam hal ini pengembang,” paparnya.

Bank BTN sendiri memberikan fasilitas dari sisi pendanaan. “Kami harus bisa memberikan kesempatan sekiranya nanti di masyarakat ada kebutuhan rumah yang jangkauan segmennya lebih rendah dari harga yang selama ini ditetapkan oleh pemerintah,” jelasnya.

Ricky mengatakan, program ini cakupannya pada masyarakat yang berasal dari sektor informal serta yang mempunyai penghasilan dibawah Rp 4 juta. Oleh karena itu bunga yang diberikan juga dalam kisaran lebih rendah. “Suku bunganya 7,25 persen selama jangka waktu kredit,” terangnya. Sementara untuk plafon pinjamannya tergantung dari besaran uang muka.

“Karena uang muka ada yang 5 persen, 10 persen, dan lainnya,” lanjut Ricky. Untuk saat ini warga Malang memang belum ada yang mengajukan KPR mikro, karena pihaknya sendiri masih melakukan koordinasi apakah di Malang ada lokasi yang bisa menjual rumah di kisaran Rp 50 juta. Apalagi harga tanah di Malang saat ini sudah melambung tinggi.

Sementara itu Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Malang, Makhrus Soleh menyatakan dukungan penuh pada program tersebut. “Apalagi apersi dari awal memang fokus pada penyediaan rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR),” kata dia.

Makhrus menyampaikan, pengembang berani saja membangun rumah itu, apalagi tipenya kecil, yakni tipe 22. “Nanti speknya menyesuaikan,” imbuhnya. Makhrus mengungkapkan, ketersediaan lahan untuk rumah murah itu bisa, hanya saja agak minggir.

“Bisa dipinggir kota, asalkan pemerintah kabupaten dan kota membantu aksesnya,” kata dia. Karena rumah dengan harga Rp 50 juta itu harga tanahnya per meter persegi harus seharga Rp 100 ribu. Jika diatas Rp 100 ribu akan sulit.

Harga tanah di Kota Malang saat ini bervariasi. “Minimal di Kota Malang Rp 200 ribu masih ada, tapi lokasinya masuk ke dalam.  Itupun harus ada bantuan dari pemkot untuk akses (infrastruktur) kesana,” jelasnya. Karena jika jalannya bagus tidak bisa dijual dengan harga seperti itu.

Menurut Makhrus, saat ini masih terkendala ketersediaan lahan untuk rumah murah. “Bisa tercapai asal ada sinergi antara pemerintah dan pengembang. Kalau dari pengembang berani-berani saja bangun rumah murah,” terangnya. Asalkan semua kebijakan pemerintah terlaksana, termasuk mudahnya perijinan. Dia mengatakan, di Kota Malang daerah yang berpotensi dibangunnya rumah murah tersebut antara lain Wagir, Tajinan, dan Karangploso. (fis/mik/JPG)

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *