Putu Pojok Tongan, Jajan Tradisional Legendaris

Putu Pojok Tongan, Jajan Tradisional Legendaris

Tak Ubah Resep Warisan Ibu sejak Tahun 1960

 

kuliner dua

 

Sejak tahun 1960-an, Putu Pojok yang berada di Jalan Ade Irma Suryani, kawasan Tongan ini tetap eksis. Usaha ini sudah dikelola oleh generasi kedua. Cita rasanya tak berubah dari dulu hingga kini.

***

Cukup mudah menemukam warung jajan pasar yang bernama Putu Pojok ini. Lokasinya berada di pojok perempatan Jl Ade Irma Suryani, Tongan.
Kendati warungnya relatif kecil, namun sudah menjadi jujukan para pelanggan. Hampir tiap hari, warung putu ini nyaris tak pernah sepi pembeli.

Seperti Rabu (16/12) malam lalu, saat Jawa Pos Radar Malang datang ke warung yang letaknya memang di pojokan ini. Jumaiyatin, 53, tampak sibuk melayani pembeli. Perempuan yang akrab disapa Tin tersebut adalah penerus generasi kedua dari usaha kuliner legendaris jajanan pasar itu. Sementara pendiri usaha ini adalah ibunya, alm Purah. ”Dulu awalnya kami jualan di kawasan Pasar Senggol (area Pasar Burung). Sempat berpindah beberapa kali lokasi jualan,” terang Tin.
Dia menjelaskan, setelah pindah dari Pasar Burung, pindah ke daerah Jalan Merdeka. Tak lama kemudian berpindah lagi ke daerah Gandekan, Kauman. Baru mulai 1993 lalu menetap di Tongan hingga sekarang.

Tin bercerita, pada awalnya ibunya tidak ada niatan untuk berjualan jajanan pasar ini. Namun tahun 1960-an harus pergi ke Surabaya untuk mengikuti suaminya, Munari, yang juga ayah dari Tin. Munari adalah prajurit TNI AD. ”Tahun 60-an juga ibu diajari saudaranya membuat jajan pasar. Kemudian dijual di Surabaya,” imbuh dia.
Merasa daganganya enak dan laris, Purah meneruskan usaha jajanan pasar itu. Namun baru saja usaha di Surabaya, tahun tahun 1962 harus pindah ke Batu. Maka usaha putu yang dirintis di Surabaya ikut berhenti. ”Baru mulai jualan lagi sejak 1979-an, ya di Pasar Senggol,” kenang dia.
Tin yang merupakan anak kedua dari empat bersaudara ini menjelaskan, dia sendiri mulai berdagang aneka jajanan pasar sejak tahun 1982. ”Anak ibu saya yang jualan resep warisan ibu, tidak hanya saya. Namun ada kakak saya, Salamah yang jualan di sekitar Dinoyo,” tegas dia.
Hingga kini, Tin tetap eksis menjual enam jenis jajanan pasar. Yakni putu, cenil, lupis, ketan bubuk, klepon, dan ijo-ijo.

Ijo-ijo merupakan makanan yang terbuat dari tepung beras yang dikukus dan diproses hingga padat, menyerupai jenang. Warnanya memang hijau dan dalam penyajiannya digulingkan di parutan kelapa. Resep ini yang terus dipertahankan agar rasa tak berubah. ”Dari dulu memang ibu jualannya seperti itu. Saya tidak ingin mengubah,” tandas dia. (ika/c1/abm)

sumber : http://radarmalang.co.id/putu-pojok-tongan-jajan-tradisional-legendaris-26528.htm

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *