Pertama di Indonesia, Kota Malang Miliki Pohon Pusaka

Pertama di Indonesia, Kota Malang Miliki Pohon Pusaka

Temu Pusaka Indonesia 2016 Malang ditutup hari ini dengan penandaan Pohon Pusaka di Area Balai Kota Malang dan kunjungan ke Biara Ursulin, Celaket.

Selain rombongan dari Badan Pelestari Pusaka Indonesia (BPPI), Duta Museum, dan komunitas pelestari sejarah lokal, tampak hadir Pembina BPPI Hashim Djojohadikusumo, Heri Akhmadi yang didampingi Kepala BPPI Catrini P. Kubontubuh dan Dwi Cahyono (Inggil Museum). Minggu pagi, (18/09/2016) sebuah papan nama bertuliskan Pohon Pusaka (Malang Heritage Tree) ditancapkan di bawah Pohon Trembesi besar, tepat di depan Hotel Tugu.

“(Peyematan) Pohon Pusaka ini yang pertama kali di Indonesia. Sebetulnya mau ditetapkan di Bogor. Akhirnya diputuskan di Malang,” terang Dwi usai acara di Biara Ursulin (Sekolah Cor Jesu).

Ikonik. Balai Kota Malang dan Alun-alun Tugu (Bunder). Pohon Trembesi besar yang mengitari kawasan ini mulai ditanam saat pembangunan Alun-alun Tugu pada tahun 1927. Minggu, 18/09/2016. (Foto: W.Arief/Halomalang)

Menurut pemilik Inggil Museum ini, pusaka tidak hanya tangible (bentuk bangunan) saja. Pohon juga merupakan pusaka, sebuah wujud yang harus tetap dijaga dan dilindungi keberadaannya Ngalamers.

“Di Malang, Pohon Kenari yang kebetulan ada di depan Cor Jesu usianya lebih dari 100 tahun, jumlahnya 150 lebih di sepanjang kawasan ini,” terang Dwi. “Tadi kan Trembesi, setelahnya Kenari, Beringin di Alun-alun,”

Selain usia, menurut Dwi, pemilihan pohon pusaka juga karena keunikannya. Ia mencontohkan di wilayah Kabupaten, ternyata Pohon Apel yang tumbuh adalah jenis Apel Tropis, yang tidak bisa tumbuh di negara lain. “Pohon inikan kalau kita percaya penyambung langit dan bumi – hidup dan mati, penyaring udara juga. Ini yang terus akan kita siarkan, kalau itu tidak disadari, terutama pemerintah. Ah ini ngotor-ngotori trus dipotong…itu tidak bisa,” jelasnya memberi contoh.

‘Malang Heritage Tree’. Malang Documentary Board  seperti ini bisa Ngalamers temukan di beberapa bangunan bersejarah di Kota Malang, seperti depan Balai Kota, Masjid Agung Jami, GPIB Immanuel, atau kawasan Kayutangan. Minggu, 18/09/2016. (Foto: W.Arief/Halomalang)

Dalam catatan sejarahnya, Pohon Trembesi yang tumbuh mengitari area Bundaran Tugu mulai ditanam saat pembangunan Alun-alun Tugu pada 1927. Pada saat itu Ngalamers, pusat pemerintahan dipindahkan dari Alun-alun Kotak (Merdeka) ke Alun-alun Bunder. Pohon ini menjadi ciri khas lansekap Alun-alun Bunder dan saksi sejarah peresmian Tugu Proklamasi oleh Presiden Soekarno pada 20 Mei 1953. Momen ini dihadiri oleh ribuan masyarakat Malang.

“Ini sudah menjadi contoh nasional (pemasangan Malang Documentary Board). Minggu depan juga dilakukan di Bogor dan Sawahlunto. Pemasangan ini sudah saya mulai sejak 6 tahun lalu, ada 15 titik lebih di Kota Malang,” terangnya bersemangat.

Pernah ke sini Ngalamers? Dibangun pada 1900. Arsitektur Biara Ursulin di Jl. JA Soeprapto (Celaket) ini memang indah, dan kokoh. Warga Malang mungkin mengenalnya sebagai Sekolah Cor Jesu. BPPI melakukan ‘jelajah’ sejarah ke biara ini bersama komunitas pelestari sejarah di hari kedua Temu Pusaka Indonesia 2016. Minggu, 18/09/2016. (Foto: W.Arief/Halomalang)

Kota Malang sendiri saat ini tergabung dalam Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) bersama 63 Kota/Kabupaten lain di Indonesia. Kabupaten Malang baru saja mengajukan pendaftaran masuk ke JKPI.

Di depan Biara Ursulin, BPPI juga menancapkan documentary board Biara Ursulin yang mungkin lebih Ngalamers kenal sebagai Sekolah Cor Jesu. “Saya tadi usul penamaannya (dari Sekolah Cor Jesu) menjadi Biara Ursulin. Sekolah ada karena Biara. Intinya adalah Biara. Hadirnya bertahap,” kata Suster Vita, pemandu dari Biara Ursulin.

BPPI juga memasang Documentary Board di halaman depan Biara Ursulin, Celaket. Minggu, 18/09/2016. (Foto: W.Arief/Halomalang)

Setelah pembangunan pada awal pada tahun 1900, tak lama kemudian hadir para suster hingga terbentuk sebuah TKK (Taman Kanak-kanak). “Dalam perkembangannya  muncul SD, SMP. Nah dulu tingkat SMA itu namanya SPG. Dan dulu memang khusus untuk perempuan. Baru di awal 1960an menerima siswa campur (laki-laki),” ujarnya kepada halomalang.

Dwi Cahyono menjelaskan maksud tujuan ‘jelajah’ sejarah ke Biara Ursulin Cor Jesu. Menurutnya Biara tersebut pada 1947 benar-benar hancur oleh perang. “Lalu kenapa bisa kembali seperti ini. Nah kita harus belajar. Belajar merestorasi, mengembalikan seperti awal. Tadi para ahli dari Jakarta juga bertanya. Tidak perlu mencari contoh ke luar negeri,” pungkas Dwi.

BPPI, Duta Museum, dan Komunitas pelestari sejarah Malang berfoto di halaman Biara Ursulin, Celaket. Minggu, 18/09/2016. (Foto: W.Arief/Halomalang)

“Kami dari BPPI memiliki tugas pokok melestarikan peninggalan budaya di Indonesia. Ini adalah biara yang sangat bersejarah, memiliki nilai arsitektur dan budaya yang sangat tinggi. Terima kasih kepada komunitas Ursulin yang telah menjaga gedung ini, tempat ini tidak akan diubah bentuknya, apalagi dijadikan mall,” kata Hashim, mengapresiasi pengelola Biara.

sumber : http://halomalang.com/news/pertama-di-indonesia-kota-malang-miliki-pohon-pusaka

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *