Pakar Ekonomi Malang Membaca Prospek 2017

Pakar Ekonomi Malang Membaca Prospek 2017

Infrastruktur, Pariwisata, hingga Lahan Parkir

MALANG KOTA – Tahun 2017 sudah di depan mata. Barangkali, ada di antara anda yang antusias, tetapi ada pula yang cemas. Nah, hasil bahasan seminar Outlook Ekonomi 2017 yang digelar Bank Indonesia (BI) bersama Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Malang di Ballroom Hotel Savana, kemarin (2/12), mungkin bisa jadi rujukan bagaimana ’memperlakukan’ tahun 2017.

Dr Aviliani SE Msi, ekonom yang juga menjabat sekretaris jenderal (sekjen) ISEI Pusat, menyatakan, dalam lima tahun ke depan, infrastruktur dan properti menjadi sektor yang paling mempengaruhi perekonomian. ”Sektor infrastruktur akan mendorong multiplier effect (bisa memicu kegiatan lain) yang besar,” kata Avi, sapaan akrab Aviliani, saat berbicara dalam seminar yang mengangkat tema ’Meningkatkan Peran Daerah dalam Perekonomian Nasional’ itu.

Wanita kelahiran Malang, 54 tahun silam ini menyatakan, ekonomi global banyak dipengaruhi oleh terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS). ”Dalam kampanyenya, Trump menyampaikan bahwa kepemimpinannya akan didominasi oleh pembangunan infrastruktur. Namun, jika kita melihat kondisi Amerika saat ini, apa lagi yang perlu dibangun? Otomatis arahnya adalah pembangunan global,” terangnya.

 

Nah, Indonesia, khususnya Jawa Timur, juga Malang Raya, harus mengarah ke sana. ”Oleh karena itu, sebagai penyeimbang, Malang punya potensi untuk mengikuti perkembangan tersebut dari aspek pariwisata,” ujarnya.

Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Guru Besar Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB) Prof Candra Fajri Ananda PhD menyoroti indeks kapasitas fiskal (IKF) di Jawa Timur. IKF bisa menjadi gambaran kemampuan keuangan masing-masing daerah.

Nah, di antaranya tiga daerah di Malang Raya, Kota Batu punya IKF paling bagus. Skornya 1,92 dan masuk IKF kategori tinggi. ”Semakin tinggi angka IKF menunjukkan semakin besar tingkat kemandirian fiskal daerah. Jika IKF lemah, akselerasi pembangunan juga menjadi lemah. Dana belanja langsung menjadi sangat terbatas,” terangnya.

Candra menyatakan, IKF itu berkaitan erat dengan pola pengaturan anggaran pendapatan belanja daerah (APBD). Termasuk di antaranya penetapan target retribusi daerah maupun pajak. ”Harus ada optimalisasi sektor pendapatan asli daerah, seperti peningkatan performa sektor potensial. Di antaranya pertanian, pariwisata, industri pengolahan tembakau, kuliner, perdagangan, konstruksi, dan (lahan) parkir,” terangnya.

Lebih lanjut, pria yang menjabat ketua ISEI Malang ini menyampaikan, kolaborasi tiga daerah di Malang Raya bisa menjadi stimulan pembangunan yang paling progresif.  ”Penetapan kebijakan peraturan tata kelola dan tata ruang menjadi kebutuhan yang semakin mendesak. Itu demi menghindari pembangunan yang hanya terkonsentrasi pada satu wilayah saja,” tandasnya.(iik/c3/muf)

 

sumber : http://radarmalang.co.id/infrastruktur-pariwisata-hingga-lahan-parkir-56118.htm

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *