Pakai Arang, Bumbu Ditumbuk agar Lebih Nikmat

Pakai Arang, Bumbu Ditumbuk agar Lebih Nikmat

Jika kuliner selalu ramai, cepat habis dan mampu bertahan dalam waktu yang lama, artinya rasa kuliner itu tentulah sangat nikmat. Sama halnya dengan Soto Duro Markeso yang sudah bertahan 38 tahun. Soto Madura ini tidak begitu banyak mengandung lemak pada kuahnya.

Rasa kuahnya segar, namun tetap gurih dan baunya yang menggoda selera. Disajikan dengan potongan daging atau jeroan yang disesuaikan dengan keinginan pelanggan. Semakin segar ketika ditambahkan kecambah mentah.

Soto yang nikmat ini semakin maknyus ketika ditaburi koyah gurih yang terbuat dari kelapa dan dibubuhi garam. Rupanya kuah yang tidak begitu berlemak ini menjadi daya tarik dan favorit pengunjung.

Dalam memanaskan soto, Markeso masih menggunakan anglo atau tungku dengan fungsi seperti kompor yang terbuat dari terakota (tanah liat). Sebagai bahannya, yang digunakan arang panas. Bukan menggunakan kompor gas seperti kebanayakan pedagang. Padahal, jika dilihat dari efisiensinya, lebih praktis menggunakan kompor gas dan lebih irit. Dalam sehari, setidaknya dia butuh dua kilogram arang. ”Dari dulu memang menggunakan arang. Dari mulai bapak saya yang jualan. Kalau diganti kompor gas, nanti rasanya jadi berubah. Tidak berani saya,” terang dia.

Tidak hanya masih tetap mempertahankan tradisi memanaskan dengan arang, namun dalam hal memasak bumbu, Markeso juga masih menggunakan cara lama. Yakni, bumbu soto pada awalnya ditumbuk menggunakan antan dan lumpang. Setelah ditumbuk, baru dihaluskan dengan cobek. Semuanya dilakukan secara manual, tidak menggunakan mesin.

Padahal, dalam sehari, dia membutuhkan sekitar tiga kilogram bumbu soto yang harus dihaluskan dengan cara manual. ”Memang enak menggunakan blender, lebih cepat dan praktis. Namun nanti rasanya berubah, pelanggan saya kabur atau tidak tahan lama nikmatnya,” terang dia.

Sementara itu, Yuli, Istri Markeso menjelaskan, dia pernah sekali mencoba menggunakan blender. Tujuannya agar tidak terlalu capek dalam menghaluskan bumbu. ”Tapi eh ketahuan Bapak (Markeso) dan marah-marah. Sekarang tidak berani lagi,” terangnya.

Menurut Yuli, menghaluskan dengan blender rasanya jadi tidak sedap. Sebab, dipercaya, bumbunya sudah beraroma mesin. Tidak hanya dalam menghaluskan bumbu saja yang ditumbuk dan diulek. Dalam membuat koyah, juga ditumbuk dan diulek. Bahkan, prosesnya lebih panjang karena harus disangrai terlebih dahulu. ”Saya pakai kelapa parut yang masih segar, jadi masih ada santannya. Yang lama itu menyangrai, karena parutan kelapa masih basah, jadi cukup lama. Namun dijamin koyahnya nggak tengik,” tandas Yuli.

Setiap hari, Soto Markeso buka dari jam 07.00 dan baru habis sekitar jam sepuluh. Setiap hari, ada 200 porsi soto yang disiapkan dengan harga Rp 10 ribu. Dengan demikian, omzet Markeso mencapai dua juta setiap hari.

Dalam melayani pembelinya, Markeso terbiasa bernyanyi. Kebetulan, Markeso memang hobi bernyanyi dengan suara yang lumayan enak didengar. ”Saya memang suka menyanyi, apalagi dangdut. Karena bisanya ya memang menyanyi dangdut. Nyanyi keroncong ya tidak bisa,” kelakar Markeso.(ika/c1/riq)

sumber : http://radarmalang.co.id/pakai-arang-bumbu-ditumbuk-agar-lebih-nikmat-31182.htm

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *