Mahasiswa UB Membuat Semikonduktor Organik Sel Surya Dari Limbah Kulit Kakao

Mahasiswa UB Membuat Semikonduktor Organik Sel Surya Dari Limbah Kulit Kakao

Sel surya berbahan dasar polimer organik disebut berbiaya produksi murah dan ramah lingkungan.

Energi merupakan permasalahan global yang mengancam kelangsungan hidup manusia. Energi yang dihasilkan sampai saat ini masih bersumber dari bahan alam yang tidak dapat diperbaharui, sehingga ketersediaannya akan berkurang dalam jangka waktu tertentu.

Kebutuhan terhadap energi tidak terbatas sementara ketersediaan energi yang dihasilkan terbatas, dibutuhkan solusi-solusi baru untuk menciptakan sumber energi alternatif yang bersifat terbarukan, praktis, murah dan ramah lingkungan. Belakangan ini telah banyak dikembangkan mengenai sumber energi yang berasal dari matahari, yaitu teknologi sel surya. Namun dalam perkembanganya sel surya anorganik (polimer silikon) yang banyak digunakan bersifat kurang efisien dan mahal.

Berdasarkan hal tersebut lima orang mahasiswa Universitas Brawijaya Malang yang terdiri dari Candra Rizqi Santoso (Kimia 2013), Mahathir Muhammad Eko Raharjo (Kimia 2013), Gempar Aditya Prabowo (Kimia 2013), Siti Imroatus Kiftiyah (Kimia 2014) dan Riski Setiorini (Fisika 2013) melakukan suatu inovasi mensintesis polimer organik poly (2,5-furylene vinylene) dari bahan dasar kulit kakao (Theobroma cacao) sebagai polimer alternatif pengganti semikonduktor silikon. Inovasi ini dilakukan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian (PKM-P) di bawah bimbingan Dr. Sc Siti Mariyah Ulfa, M.Sc, dosen Jurusan Kimia UB yang telah meneliti tentang potensi polimer organik sebagai material sel surya.

Sel surya berbahan dasar polimer organik berpotensi dikembangkan karena memiliki banyak kelebihan, diantaranya mudah dalam pembuatannya, biaya produksi yang murah dan ramah lingkungan karena dapat mereduksi keberadaan limbah kulit kakao.

Lima mahasiswa UB ini mensintesis polimer organik poly (2,5-furylene vinylene) dari bahan dasar kulit kakao sebagai polimer alternatif pengganti semikonduktor silikon.

Candra mengatakan bahwa, “Kulit kakao dipilih sebagai bahan dasar karena diketahui kulit kakao mengandung hemiselulosa yang cukup tinggi untuk sintesis polimer poly(2,5-furylene vinylene). Selain itu, kulit kakao merupakan limbah organik yang jumlahnya melimpah dan belum dimanfaatkan secara optimal sehingga dapat membantu pengurangan limbah pertanian.”

“Polimer poly(2,5-furylene vinylene) merupakan bahan semikonduktor yang dapat mengubah energi foton menjadi energi listrik sehingga dapat dipakai sebagai lapisan aktif pada sel surya. Polimer ini disintesis sebagai material semikonduktor sel surya melalui beberapa tahapan proses yaitu hidrolisis, kondensasi, brominasi dan polimerisasi.  Namun polimer ini masih perlu dilakukan pengujian lebih lanjut untuk mengetahui tingkat efisiensi polimer ini sebagai semikonduktor sel surya”, tambah Candra.

Mahatir Muhammad <mahatirzz@gmail.com>

 sumber : http://halomalang.com/news/mahasiswa-ub-membuat-semikonduktor-organik-sel-surya-dari-limbah-kulit-kakao

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *