Mahasiswa, antara Merubah atau Berubah!

Mahasiswa, antara Merubah atau Berubah!

Oleh: Beti Kurniawati, Mahasiswa FKIP Unisma

Melihat teman-teman seperjuangan saya berkobar-kobar saat mendengar issue kenaikan BBM, atau mendengar mereka berlomba-lomba galang dana untuk korban bencana alam, kadang terbesit dalam benak saya, Mahasiswa benar-benar agen perubahan untuk negeri ini.

Namun, setelah lama menjadi mahasiswi sebuah perguruan tinggi swasta di kota Malang, agaknya pemikiran saya agak berbelok.

Betapa tidak, mahasiswa yang dielu-elukan sebagai agent of change seperti telah kehilangan jati diri mereka.

Mereka mengakui diri mereka sebagai agen perubahan, tapi bila ditengok kembali di realita kehidupan mereka, hati ini seperti teriris belati tajam.

Agaknya masih segar diingatan kita akan kejadian beberapa bulan yang lalu, ketika banyak mahasiswa bersama masyarakat beramai-ramai memprotes kebijakan walikota Malang akan jalur searah, yang pada akhirnya pemerintah kota Malang menerapkan kembali jalur dua arah.

Kejadian tersebut memang sebuah bukti prestasi mahasiswa dalam menentukan perubahan. Akan tetapi tak lantas menjadikan mahasiswa sebagai agen perubahan yang sebenarnya.

Sekarang mari kita lihat fakta-fakta mengenai mahasiswa yang mungkin sudah menjadi rahasia umum di kalangan masyarakat kita. Pertama, saat menjadi mahasiswa baru, merantau dari kota kelahiran untuk menuntut ilmu, berkenalan dengan lingkungan baru juga teman-teman baru.

Pada fase ini, mahasiswa seperti ingin mencari jati diri mereka, ingin menunjukkan bahwa diri mereka sama dengan teman-teman seangkatan mereka dan bahkan dengan senior-senior mereka.

Para mahasiswa baru ini mulai berkenalan dengan aktivitas baru, berkumpul dengan senior dan teman-teman seangkatan, membahas issue-issue pertandingan sepak bola hingga kenegaraan, dan lain sebagainya.

Tanpa mereka sadari, mereka disodori dengan sebuah tradisi, tradisi ngopi. Pada mulanya mereka hanya akan ikut-ikutan dan mempelajari tradisi tersebut, hingga tanpa sadar mereka telah masuk terlalu jauh, mengambil segala sisi tradisi yang disodorkan pada mereka.

Mungkin, tak banyak perubahan yang terjadi pada fase mahasiswa baru ini, kecuali mereka mulai mengenal tradisi senior mereka dan mulai ikut-ikutan dalam tradisi tersebut. Tak banyak pula orang tua yang tau, bahwa anak mereka yang kini menjadi mahasiswa telah terbawa tradisi lain, tradisi ngopi.

Berawal dari ngopi-ngopi, diskusi-diskusi hingga larut malam, berlanjut hingga nonton bola bersama, dan masih banyak lagi. Dan tanpa sadar, mahasiswa baru ini telah berubah secara kultural. Mereka pun mulai berkenalan dengan batang rokok. Seorang siswa Sekolah Menengah Atas pun kini telah bermetamorfosis menjadi mahasiswa.

Lebih jauh lagi, apa kabar dengan si mahasiswi? Tak jauh berbeda dengan sang mahasiswa, bahkan ada pula mahasiswi yang ikut-ikutan pada tradisi sang mahasiswa, tradisi ngopi. Ada juga mahasiswi yang berkembang kearah lain.

Banyak diantara mereka yang telah mengenal kosmetik, mencoba krim ini krim itu, belajar mendandani diri, menarik perhatian lawan jenis mereka. Mengikuti tren mode pakaian yang bisa dibilang kekurangan kain.

Padahal harga kain tak naik drastis. Yah, memang mereka kini mahasiswi, bukan lagi siswi Sekolah Menengah Atas. Mereka pun telah merubah diri mereka sendiri.

Mahasiswa, yang katanya Agent of Change, kini telah benar-benar berubah. Meski tak semuanya yang benar-banar berubah. Ada juga mereka yang masih terbawa kebiasaan seorang siswa, dimana seusai sekolah mereka melepas seragam mereka kemudia mandi dan minum susu lalu mengerjakan tugas-tugas harian yang diberikan Bapak dan Ibu guru.

Dari sinilah berkembang dua buah istilah, mahasiswa kura-kura dan mahasiswa kupu-kupu yang masing-masing adalah kepanjangan dari mahasiswa kuliah-rapat serta mahasiswa kuliah-pulang.

Terlepas dari perubahan-perubahan di atas, ada sebuah efek yang secara sadar atau tidak, telah menjadi sebuah langkah metamorfosis, seperti halnya metamorfosis ulat menjadi kupu-kupu yang telah membawa perubahan terhadap bentuk dan cara hidup.

Metamorfosis siwa menjadi mahasiswa pun telah merubah pola pikir mereka. Dalam perkembangannya, mereka mahasiswa dan mahasiswi yang masih membawa kebiasaan siswa mereka, akan berkembang ilmu akademisnya, namun sisi sosial mereka akan tetap sama.

Mahasiswa ini telah berubah dan menambah pengetahuan mereka. Namun, dimana sisi perubahan yang sebenarnya? Hal besar apa yang mereka rubah? Mungkin hanya keilmuan mereka saja yang mereka ubah dan menaikkan levelnya.

Mahasiswa ini mungkin akan berkembang menjadi ilmuan-ilmuan yang akan merubah dunia. Apakah benar? Bahkan merubah cara pandang mereka saja, mereka masih belum berhasil. Lantas dunia mana yang ingin mereka ubah?

Di lain pihak, baik mahasiswa ataupun mahasiswi yang terbawa tradisi senioritas, cenderung lebih kritis, berani bicara, serta pandai bernegosiasi. Selain itu mereka juga cenderung santai dalam mengerjakan tugas kuliah, mengentengkan segala urusan kampus karna telah merasa pandai bernego, hingga mulai mengeyampingkan urusan ibadah, serta mulai teledor dalam mengatur waktu.

Apakah mereka mampu merubah kebiasaan mereka tersebut? Bila tidak, lantas mengapa ingin mengubah yang lainnya? Mahasiswa seperti ini mungkin akan berkembang dan menduduki kursi-kursi penting di pemerintahan, karna mereka yang disana memang dituntut untuk banyak bicara.

Namun, apa yang ingin mereka ubah? Mahasiswa-mahasiswi 98 yang pada masanya meneriakkan perubahan terhadap bangsa, yang sekarang mereka mungkin telah duduk menjadi pejabat penting Negara, apakah teriakan yang mereka pekikkan saat mereka mahasiswa sudah terlaksana?

Teriakan itu kini dikumandangkan oleh junior-junior mereka yang secara tidak sadar telah mereka ajarkan untuk selalu menentang tanpa benar-benar memperhatikan sisi baik dan buruk dari apa yang mereka tentang.

Mahasiswa, yang katanya agent of change, apakah telah benar-benar menjadi agen yang membawa perubahan? Selain dari diri mereka yang berubah? Lantas di mana letak perubahan itu? Tak ada yang benar-benar berubah, tak ada yang benar-benar ingin berubah. Bila ingin mengadakan perubahan, terlebih dulu rubahlah diri sendiri.

 sumber : http://www.malangtimes.com/baca/65/20150303/122758/mahasiswa-antara-merubah-atau-berubah/

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *