Kuliner Sate Sapi Pak Haji Kholil

Kuliner Sate Sapi Pak Haji Kholil

Berguru ke Bandung, Sate Sapi yang Empuk Jadi Pembeda[spacer height=”20px”]

Warung Sate Pak Haji Kholil punya ciri khas yang tidak dimiliki tempat kuliner lainnya. Warung yang beralamat di Jalan LA Sucipto itu punya menu andalan: sate sapi dengan bumbu kacang yang ditaburi sayur mayur.[spacer height=”20px”]

 

***

 

Malam mulai larut pada Rabu malam (27/7) lalu. Para pembeli silih berganti datang ke warung sederhana yang ada di Jalan LA Sucipto, Blimbing, Kota Malang itu. Kepulan asap dan bau sedap bumbu sate seolah menyambut siapapun pembeli yang datang.[spacer height=”20px”]

Warung milik M. Kholil tersebut tidaklah megah. Ruang untuk mengudap makanan hanya 3×2 meter. Di luar bangunan, ada rombong sate yang menjadi tempat meracik aneka macam bumbu plus menyimpan daging.[spacer height=”20px”]

Sementara di samping rombong itu terdapat alat pembakar yang tak henti-hentinya mengepulkan asap. Jika warung tak terlalu ramai, pembeli hanya perlu menunggu sekitar 10 menit saja.[spacer height=”20px”]

Warung Sate Pak Kholil menawarkan tiga jenis daging. Ayam, kambing, dan sapi. Di antara tiga opsi itu, daging sapi lah yang paling recommended.

Setiap porsi sate, dipadukan dengan bumbu kacang plus kecap yang kental. Sebagai pelengkap, ada juga sayur selada dan timun yang dipotong-potong. Sayuran itu diletakkan di atas bumbu yang berwarna kecokelatan. ”Sate yang ada sayurannya itu jarang. Ini saya tambahkan biar lebih nikmat,” kata Kholil. ”Selain itu, agar jadi penyeimbang. Kalau sate kan kolesterol semua,” imbuh pria asal Bangkalan ini.[spacer height=”20px”]

Kholil bercerita, dia mulai membuka warung sate sejak 1982 silam atau 34 tahun lalu. Sejak berdiri hingga sekarang, tempatnya tidak berpindah-pindah, yakni di Jalan LA Sucipto atau di sebelah barat rel kereta api. ”Dulu awalnya tenda,” imbuh pria berumur 61 tahun ini.[spacer height=”20px”]

Dia mengenang kalau dirinya berjualan sate karena memang tidak ada pekerjaan lagi. Sebelumnya, sekitar dua tahun dia berjualan kayu bekas di Bandung. ”Tapi bangkrut karena tidak ada yang beli,” kata pria dua anak itu. ”Dulu buat makan saja sulit,” imbuhnya sambil melayangkan ingatan pada masa puluhan tahun lalu.[spacer height=”20px”]

Karena itulah, dia belajar membuat dan meracik bumbu sate ke sepupunya bernama Ismai di Bandung. Setelah mampu membuat sate sendiri, Kholil memutuskan untuk merantau ke Malang. ”Dari dulu sampai sekarang kalau bumbu saya murni kacang, biasanya ada yang dicampur lontong biar banyak,” imbuh pria yang hanya lulusan sekolah dasar ini.[spacer height=”20px”]

Ketika awal-awal mendirikan warung, hanya sate ayam dan kambing yang tersedia. Baru setahun setelah itu ada seorang temannya yang mengajari Kholil membuat daging sate sapi. ”Dan sampai sekarang ini jadi ciri khas,” tambah suami dari Muniroh, 55, ini.

Keunggulan sate sapi, menurut Kholil, tekstur dagingnya yang empuk. Sedangkan kalau daging kambing lebih keras. ”Memang orang-orang lebih suka pada sate sapi, karena memang langka,” imbuhnya.[spacer height=”20px”]

Di warung ini, harga sate sapi dan sate kambing sama. Yakni Rp 22 ribu untuk sepuluh tusuk. Sedangkan untuk sate ayam sepuluh tusuk Rp 12 ribu. Dalam berjualan, Kholil dibantu empat orang karyawannya.[spacer height=”20px”]

Dia bersyukur sekarang warungnya selalu ramai pembeli dan sudah bisa mempekerjakan orang. ”Karyawan ini yang bantu saya mulai dari memotong-motong daging, menusuk daging dengan tusuk sate, hingga membakarnya,” pungkasnya. (riq/c1/muf)

sumber : http://radarmalang.co.id/kuliner-sate-sapi-pak-haji-kholil-41710.htm

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *