Kisah Mbah Rasimun, sang perajin payung Mutho

Kisah Mbah Rasimun, sang perajin payung Mutho

Payung Mutho atau pun dikenal dengan payung kertas merupakan salah satu kerajinan yang kini mulai jarang terlihat, khususnya di kota Malang. Payung Mutho merupakan payung kuno yang terbuat dari jalinan bambu dan kertas, serta di hias dengan lukisan tangan.

Menyusuri jalanan kota Malang, seorang pria tua pun asik menjajakan payung Mutho dengan ramah. Rasimun, itulah nama pria yang kini usianya hampir mencapai 90 tahun. Orang-orang lebih akrab memanggilnya dengan sebutan Mbah Rasimun.

Mbah Rasimun, tak memiliki lokasi tetap untuk menjajakan payung Mutho yang digarapnya seorang diri. Biasanya, ia berjualan di sekitaran gerbang masuk Pasar Minggu MOG maupun di seputaran Pasar Minggu Velodrom. Terkadang, ia pun terlihat menjajakan payung kertas dalam beberapa acara bertema tempo dulu di seputaran kota Malang.

Bercerita tentang dirinya, Mbah Rasimun mulai berjualan payung sekitar tahun 1945. Sebelumnya, ia dibantu oleh sang istri, Tumini untuk menghasilkan payung kertas. Bahkan, Rasimun muda dan sang istri sanggup menggarap ratusan payung kertas dalam sebulan. Payung-payung tersebut diproduksi untuk memenuhi pesanan yang datang dari luar kota.

“Lo kalo jualan (payung kertas), saya sudah dari 45. Sejak Belanda mau masuk Surabaya dulu”, cerita Mbah Rasimun yang ditemui malang.merdeka.com, Minggu (16/10).

Namun, sejak sang istri meninggal dunia, Mbah Rasimun mengerjakan pembuatan payung kertas tersebut seorang diri. Hanya kadang-kadang saja, Mbah Rasimun dibantu oleh anaknya. Kini, ia pun hanya mampu menggarap paling banyak 100 payung kertas saja dalam sebulan. Ia sudah tak mampu lagi menerima pesanan payung dalam jumlah yang besar.

Rasimun Perajin Payung Kertas
© 2016 merdeka.com/Siti Rutmawati
Mbah Rasimun sendiri mengaku, anak-anaknya tak ada yang tertarik untuk melanjutkan usaha miliknya. Pria yang tinggal di jalan Adi Sucipto gang Taruna 3, kelurahan Pandanwangi, kota Malang ini memiliki tujuh orang anak. Semuanya anaknya telah berkeluarga dan memiliki kesibukan masing-masing.

Meski begitu, Mbah Rasimun tetap bersemangat melanjutkan kreasinya dalam membuat payung kertas. Bahkan, ia bersedia mengajak pembelinya yang ingin belajar membuat payung kertas. Mbah Rasimun mempersilahkan bagi siapa pun yang ingin belajar membuat payung kertas untuk singgah ke rumahnya.

sumber : https://malang.merdeka.com/profil/kisah-mbah-rasimun-sang-perajin-payung-mutho-161017c.html

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *