Ki Ledjar Soebroto: Wayang Kancil Efektif Untuk Edukasi Lingkungan Hidup

Ki Ledjar Soebroto: Wayang Kancil Efektif Untuk Edukasi Lingkungan Hidup

Jauh dari negeri asalnya, Indonesia, Wayang Kancil sudah dijadikan tambahan kurikulum tingkat SD di Inggris, termasuk juga Belanda dan Jerman.
___

Ngalamers, gebrakan baru dibuat HMJ Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang (Sasindo UM) di Pekan Budaya tahun 2016. Jika di tahun-tahun sebelumnya menghadirkan para sastrawan/pujangga tanah air – kemudian diberi tajuk ‘Malam Pujangga’- kali ini Sasindo menghadirkan sosok budayawan.

Hadir pada Semarak Malam Budaya, Rabu (18/05/2016) adalah Sang Maestro Wayang Kancil, Ki Ledjar Soebroto. Budaya wayang adalah salah satu ranah yang memiliki erat kaitannya dengan sastra.

“Ini memberi wacana baru bagi para mahasiswa. Ternyata Kancil ini sudah lama dialih-mediakan dalam pertunjukan wayang. Wayang Kancil sifatnya lebih fleksibel. Tergantung siapa dalangnya,” ujar Teguh Tri Wahyudi, MA. Dosen Sastra Jawa UM kepada halomalang.

Fabel familiar. Ki Ananta Wicaksono, cucu maestro Wayang Kancil Ki Ledjar Soebroto dalam pertunjukan ‘Kancil Pahlawan Hutan’ dalam Pekan Budaya 2016 di Sasbud UM. Rabu, 18/05/2016 (Foto: W.Arief/Halomalang)

Ia mencontohkan seorang rekannya di UGM Jurusan Sastra Inggris, ketiga Ndalang menyampaikan dengan bahasa Inggris. Rekan Teguh lain asal Perancis juga menyampaikan dengan Bahasa Perancis. “Memang fleksibel, tidak saklek seperti Wayang Purwo. Termasuk iring-iringan (lagu) nya bebas. Menyesuaikan tokoh apa yang muncul,” imbuh Pembina Sasindo UM ini.

Dalam sambutannya Teguh menyebut Pekan Budaya kali ini adalah apresiasi mahasiswanya Jurusan Sastra Indonesia terhadap ‘Mutiara yang Terpendam’, yakni Wayang Kancil yang sudah mendunia. “Tapi ternyata kita di sini malah tidak tahu,”.

Ternyata nih Ngalamers, budaya Jawa ini sudah dijadikan kurikulum pendidikan tingkat Sekolah Dasar di negeri Ratu Elizabeth, Inggris. Halomalang mendapatkan cerita langsung dari sang maestro Ki Ledjar Soebroto. Jika Ngalamers asing dengan Wayang Kancil, yang besar di era 80 hingga 90-an pasti tidak asing dengan cerita rakyat yang sering diberi judul ‘Kancil Mencuri Timun/Kancil Nyolong Timun’ kan?

“Wayang Kancil berasal dari dongeng Kancil yang dulu biasa dijadikan dongeng orang tua kepada anak-anaknya. Atau guru kepada murid-muridnya. Ini sekaligus penyampaian pendidikan budi pekerti. Terus saya angkat menjadi Wayang,” ujar pria 78 tahun yang akrab disapa Mbah Ledjar.

Maestro Wayang Kancil Ki Ledjar Soebroto (78). Beliau mengalih-wahanakan cerita fabel Kancil ke bentuk wayang sebagai media edukasi seni budaya & lingkungan kepada anak-anak. Rabu, 18/05/2016 (Foto: W.Arief/Halomalang)

Alih wahana ini, menurutnya sangat efektif dijadikan sarana pendidikan anak-anak dan masyarakat yang erat kaitannya dengan lingkungan hidup. Masyarakat kita, saat ini dinilai Ki Ledjar masih abai dengan lingkungan. Wayang Kancil ini ternyata sudah diapresiasi Dinas Lingkungan Hidup Yogyakarta dengan memberi tema Wayang Kancil Sebagai Pendidikan Sadar Lingkungan melalui kisah-kisah binatang yang menjadi tokoh di dalamnya.

Tapi ada yang lebih ‘mengejutkan’ Ngalamers. “Pendidikan dengan seni-dan budaya, di Inggris (Wayang Kancil) dijadikan tambahan kurikulum di tingkat SD. Kebetulan salah satu gurunya ada yang menjadi dalang, namanya Sarah Bilby,” ujarnya.

Tak hanya di Inggris, termasuk di Jerman dan Belanda. “Kenyataan, justru yang tertarik dengan metode Wayang Kancil ini adalah para pengasuh anak dan para guru. Anak-anak gampang menerima,”

Event Pekan Budaya 2016 ini menjadikan pertunjukan pertama Wayang Kancil di Malang.

Wayang Kancil memang mengangkat tokoh binatang, dengan Kancil sebagai tokoh utama yang ‘Cerdik’. Cerita Kancil sendiri, kata Ki Ledjar bersumber dari Serat Kancil tulisan para pujangga Jawa terdahulu. Ironisnya, karya sastra dengan huruf Jawa ini justru ditemukan di Belanda.

“Tapi malah ada yang menyalah-gunakan. Akhirnya menimbulkan masalah baru yang harus dicari solusinya, seperti mendongengkan ‘Kancil Mencuri Timun’. Penyimpangannya di situ,” terang Ki Ledjar.

Kisah Kerbau menyeberangkan Buaya ini cukup populer di tengah masyarakat. Tapi apakah Ngalamers tahu pesan lingkungannya?. Dalang Ki Bayu Suryo Kusumo. Rabu, 18/05/2016 (Foto: W.Arief/Halomalang)

‘Kancil Mencuri buah Mentimun di ladang warga. Tertangkap. Tapi oleh warga, si Kancil dilarang dibunuh, karena Kancil tidak salah. Kancil mencuri timun, karena hutan tempat dia hidup dan mencari makan sudah dibabat habis oleh manusia.’ Pesan lingkungan inilah yang jarang disampaikan oleh si pendongeng di Indonesia. Malah ‘kelicikan’ si Kancil yang sering diekspose, kata, Ki Ledjar.

Ki Ledjar menceritakan awal ia membuat Wayang Kancil pada tahun 1980-an, lalu dikembangkan bersama para budayawan di Universitas Gajah Mada. Ini sebagai tanggapan keluhan rekan-rekannya sesama dalang kalau anak-anak sudah malas dengan budaya Wayang. “Semoga ini menjadi jembatan agar masyarakat kembali cinta dengan Wayang dan budayanya,” pungkas Ki Ledjar.

Sebelum sesi dialog di Semarak Malam Budaya, di Sasana Budaya UM Rabu kemarin, juga digelar pertunjukan Wayang Kancil oleh Ki Bayu Suryo Kusumo (Mahasiswa UM) dengan judul ‘Air Susu Dibalas Air Tuba’ dan Ki Ananta Wicaksono (cucu Ki Ledjar) dengan judul ‘Kancil Pahlawan Hutan’.

Rangkaian acara Pekan Budaya 2016 Sasindo UM juga menggelar Lomba Cerpen Pekan Budaya serta Teatrikalisasi Puisi.

sumber : http://halomalang.com/news/ki-ledjar-soebroto-wayang-kancil-efektif-untun-edukasi-lingkungan-hidup

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *