Ketika Akik Nangkring di Jemari Lentik Ibu-Ibu di Malang Raya

Ketika Akik Nangkring di Jemari Lentik Ibu-Ibu di Malang Raya

Tetap Modis, Buru Batu Hingga Australia dan Kanada

Perhiasan dari batu akik umumnya memang sering terlihat dipakai oleh kaum pria. Namun, bukan berarti para perempuan tidak ada yang tertarik dengan perhiasan dari batu-batuan ini. Hanya saja, model dan ukurannya tidak terlalu mencolok seperti yang sering terlihat di jari-jemari para pria.

Meski banyak kaum hawa lebih menyukai perhiasan yang terbuat dari emas karena dinilai lebih berharga dan mewah, berwarna-warni, keunikan akik tak kalah menarik sebagai aksesori pemanis penampilan. Seperti yang tampak di jemari lentik Direktur Persada Hospital dr Kushandayani MMRS. Sebentuk batu berwarna merah menyala menghiasi cincin yang dikenakan di jari manis kanannya. ”Saya koleksi batu sejak lama, mulai sebelum jadi tren malah,” jelas Ninil, sapaan akrabnya.

Sehari-hari, dia mengenakan perhiasan dengan hiasan batuan disesuaikan dengan busana dan jenis acara yang akan dihadiri. ”Kalau bajunya sudah ada ornament, pilih aksesori yang simpel,” tutur Kushandayani. Tak hanya dalam bentuk cincin, dia juga kerap menggunakan batu sebagai liontin dan juga gelang.

SUHARTO/RADARMALANG  PECINTA BATU-BATUAN: Anjani Fitria R dari Shine Modelling Agency menunjukkan sejumlah koleksi batu permata di Benhouse Chocolate Café Jalan Pattimura, Kota Malang, kemarin siang.

SUHARTO/RADARMALANG
PECINTA BATU-BATUAN: Anjani Fitria R dari Shine Modelling Agency menunjukkan sejumlah koleksi batu permata di Benhouse Chocolate Café Jalan Pattimura, Kota Malang, kemarin siang.

Senada dengan salah satu kolektor akik di Kota Malang, Maria Sidartawan yang merasa tak canggung mengenakan dua cincin bermata batuan sekaligus. ”Yang penting  pede (percaya diri, Red), warna dan bentuknya disesuaikan,” tutur dia. Agar tak terkesan berlebihan, batu yang dipilih untuk dikenakan berbeda ukuran, salah satu lebih besar dari yang lain. Bukan sama-sama besar agar tidak mencolok. Jenis emban (cincin tempat batu) pun sengaja didesain lebih feminin.

”Paling suka batu fosfor dan jade,” tutur dia. Awalnya, Maria hanya punya dua buah cincin batu. Lama-lama dia tertarik karena ragam dan jenisnya. Bahkan, dia juga memburu batu asal berbagai negara di dunia. Misalnya pink lady dari Australia, dan juga blue ink dari Kanada. Harganya pun terbilang fantastis. Untuk batu-batu fosfor, mulai dari Rp 750 ribu hingga jutaan rupiah. Untuk batu-batu langka, Maria tak segan merogoh kocek hingga puluhan juta rupiah.

Berbeda dengan permata, batu bagi ibu dua anak ini memiliki sisi lain. Yakni berbagai variasi tampilan dan efek visual yang muncul saat terkena cahaya. Dia juga kerap memberikan sebagian koleksinya pada rekanan sebagai tanda mata. ”Kalau di awal-awal, pilih saja jenis batu yang sesuai dengan kepribadian. Misalkan, bagi orang-orang yang ekstrovert dan bersemangat, bisa memilih batu-batu berwarna berani seperti merah,” tutur Maria.

Batu akik merah seperti halnya ruby, sering diidentikkan sebagai simbol energi dan kegairahan. Selain itu, batu-batu seperti blue topaz, blue safir, giok hijau, merah mawar, merah siem, dan merah delima juga bisa menjadi pilihan alternatif bagi para perempuan. Warna-warna lembut seperti ini cocok untuk perempuan yang menjadi simbol feminitas dan kelembutan. (lil/c1/lia)

 sumber : http://radarmalang.co.id/ketika-akik-nangkring-di-jemari-lentik-ibu-ibu-di-malang-raya-17137.htm

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *