Kesan Desa ala Keraton Jawa meski Ada di Perumahan

Kesan Desa ala Keraton Jawa meski Ada di Perumahan

Desain rumah ini memadukan kemauan pasangan suami-istri Hari Widjayanto dan Lidya Ajanti. Setelah dirombak total, jadilah rumah ala pedesaan yang kental dengan Keraton Jawa. Untuk membeli rumah tersebut, pasangan ini benar-benar penuh perjuangan.

Desain rumah di perumahan umumnya tidak terlalu neko-neko dan hampir seragam. Tapi, hal tersebut tidak berlaku bagi rumah Hari Widjayanto yang ada di Perumahan Sawojajar, Kota Malang. Pria yang berprofesi sebagai master of ceremonies (MC) ini menghadirkan rumah desa di tengah-tengah perumahan kaum urban.
Memasuki rumah tersebut, suasana desa mulai terasa sejak bagian paling depan. Ada pintu gerbang menyerupai regol. Biasanya regol adalah pintu gerbang yang ada di Keraton Jawa. Batu bata yang mendominasi regol sengaja tidak disemen agar kesan alami terasa kuat. Ukurannya juga mini, yakni hanya bisa dilewati dua orang.
Setelah melintasi regol, ada pintu masuk rumah yang dilengkapi kusen ukiran. Di luar rumah, dinding batu bata juga tidak dipoles dengan semen. Selain itu, tepat di depan regol, ada lahan sempit dengan panjang dan lebar setengah meter yang ditanami aneka tanaman. ”Konsepnya memang kembali ke desa. Jadi pengen yang natural dan identik sama etnik Jawa, karena itu ada regol di depan,” ucap pria yang akrab disapa Tito ini saat ditemui di rumahnya di Jalan Danau Limboto Barat A4/E32 Sawojajar, Kota Malang.
Masuk ke dalam rumah seluas 105 meter persegi ini, model atap tinggi menyambut hingga ke lantai dua. Tujuannya agar sirkulasi udara lebih baik. Model seperti ini juga untuk memberi ruang untuk menempatkan jendela agar cahaya bisa masuk. Selain itu, di setiap ruangannya dikonsep menjadi tempat yang luas. Sehingga menimbulkan kesan ruangan yang megah meski luas total rumah ini tidak terlalu besar.
Untuk mengantisipasi lembab dan menambah kesan natural, bagian dinding ruang tamu diberi tripleks yang di-finishing dengan pelitur. Agar lebih ciamik, di atas lapisan tripleks diberi ukiran jadi serta diberi frame. Uniknya, frame yang digunakan di tembok ini merupakan sisa kayu dari pigura yang disatukan oleh Tito. ”Frame limbah dari pigura ini lebih hemat. Setelah dipoles dan dipelitur, lalu dipadukan dengan ukiran, bisa terlihat lebih menarik,” kata pembawa acara yang identik dengan acara penikahan ala Mandarin ini.
Tempat tinggal Tito ini sudah melalui dua kali renovasi sejak dibeli pada tahun 2001 dengan harga Rp 55 juta. Saat pertama kali dibeli, kondisinya sangat memprihatinkan. Menurut pria kelahiran Malang, 30 September 1982 ini, plafon rumah sudah banyak yang jatuh. Ilalang banyak tumbuh di halaman rumah. Kondisi cat pada dinding banyak yang mengelupas dan dipenuhi lumut. Ubinnya juga sudah bergelombang dan banyak yang pecah. Karena inilah, Tito membelinya dengan harga murah.(ded/riq)

selengkapnya baca koran Radar Malang edisi Selasa (31/5)

sumber : http://radarmalang.co.id/kesan-desa-ala-keraton-jawa-meski-ada-di-perumahan-38192.htm

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *