Hujan, Cermati Kesehatan Balita Lingkungan Tak Sehat

Hujan, Cermati Kesehatan Balita Lingkungan Tak Sehat

Picu Beragam Penyakit

Dari Kanan : dr. Ary Setyaningsih dan Kabag Humas RSUD Kepanjen Eti Nurhayati

Dari Kanan : dr. ArianI Setyaningsih dan Kabag Humas RSUD Kepanjen Eti Nurhayati

KEPANJEN – Memasuki musim penghujan, para orang tua harus lebih perhatian terhadap kesehatan anak, terutama balita. Karena ancaman penyakit meningkat seiring dengan kondisi lingkungan yang kurang bersih. Hal itu semakin parah jika masyarakat di sekitar rumah kurang peduli dengan kebersihan.

”Akibatnya bisa banyak yang terserang penyakit, terutama anak-anak,” tutur Ariani Setyaningsih, SpA, Dokter spesialis anak RSUD Kepanjen, Kamis (17/12). Ariani menuturkan, anak-anak menjadi sasaran penyakit lantaran mereka belum mengerti kebersihan. Saat usia balita, apa yang di hadapan mereka seringkali langsung dimasukkan ke dalam mulut. ”Apalagi imun mereka masih belum bagus, tidak seperti orang dewasa,” ujar Ariani.

Menurut dokter berkacamata ini, ada tiga penyakit yang sering menyerang anak-anak, yakni diare, DBD dan infeksi saluran pernafasan. ”Kalau diare itu biasanya pasien diserang rotavirus,” kata dia. Rotavirus sendiri menyerang saluran cerna yang juga bisa dialami bayi di bawah umur enam bulan.

Bayi yang terkena virus tersebut bukan lantaran nutrisi yang masuk ke dalam tubuhnya. ”Itu lebih kepada lingkungan si bayi yang kurang bersih,” kata alumnus Universitas Brawijaya ini. Meski bayi di bawah usia enam bulan masih mengonsumsi ASI (air susu ibu), terjangkitnya virus tersebut tidak ada hubungannya dengan makanan yang dikonsumsi ibu.

Penyakit lain yang patut diwaspadai adalah diare. ”Anak bisa mengalami dehidrasi berat karena mengeluarkan banyak cairan,” katanya. Dehidrasi berat ditandai dengan anak terlihat lemas, cepat haus, ubun-ubun cekung, bibir kering dan jika perut dicubit, bekas cubitan susah kembali. ”Harus ada penanganan cepat dan tepat jika anak terserang diare,” bebernya. Namun, Ariani menyayangkan karena banyak orang tua yang justru memberikan air gula hangat ketika anak mereka terserang diare. ”Mungkin mereka berpikir kalo air gula menambah energi, padahal justru bisa hiperosmoler, makin menarik cairan” ungkapnya.

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *