Hamil, Jangan Paksakan Diri Berpuasa

Hamil, Jangan Paksakan Diri Berpuasa

Ketika Muntah, Elektrolit dalam Tubuh Ikut Hilang

MALANG KOTA– Allah SWT melalui rasulnya Muhammad SAW memerintahkan manusia untuk berpuasa. Sehingga puasa hukumnya wajib bagi semua umat Islam. Tetapi Rasullullah tidak memaksakan umatnya untuk berpuasa jika memang tidak kuat untuk berpuasa.

Seperti wanita hamil. Mereka tetap dianjurkan untuk berpuasa, tetapi jika tidak kuat, maka boleh tidak berpuasa.

Anjuran fiqih Islam ini menurut dr Hermawan Wibisono SpOG, salah satu dokter kandungan rumah sakit Hermina, Kota Malang, juga sama dengan ketentuan dalam dunia medis. Bagi wanita hamil, kata dia, jika memang sudah terjadi gejala seperti muntah-muntah, maka semestinya membatalkan puasa. ”Karena jika diteruskan akan membahayakan sang ibu. Kalu berbahaya buat ibu, tentu juga berbahaya buat bayi,”terang Hermawan, kemarin (1/7).

Artinya, kata dia, puasa boleh dicoba oleh ibu hamil, tetapi tidak boleh dipaksakan. Apalagi puasanya hanya sekadar biar dipuji orang agar kelihatan kuat dan alim. ”Jadi puasa itu bukan untuk show of. Kalau bukan untuk pamer, insyaalah kuat,”kata dokter yang hobi golf itu.

Sebab menurutnya, berpuasa tidak memengaruhi pertumbuhan bayi. Artinya, bayi tidak akan menurun pertumbuhannya hanya karena sang ibu berpuasa. Pasalnya, untuk masyarakat Indonesia dan Malang khususnya, waktu puasa rata-rata 14 jam. Setelah itu ibu hamil sudah dapat menambah asupan makanannya, termasuk asupan makan untuk sang bayi. ”Puasa itu kan hanya sebulan. Sementara usia kehamilan sembilan bulan sepuluh hari. Jadi kalau hanya sebulan puasa tidak berpengaruh,”ucap dokter yang juga dosen Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK-UB) Malang itu.

Prinsipnya, lanjut dia, tumbuh kembang bayi, tergantung suplai plasenta di mana bayi mendapatkan makan dari darah ibu ke bayi. Sementara, apa yang dimakan ibu akan diolah menjadi darah. Maka jika sang ibu tidak mengalami dehidrasi, asupan buat bayi juga cukup. Dengan demikian, menurut dokter yang juga praktik di Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) ini, kemungkinan akan kurangnya suplai makanan dari ibu ke anak dapat disiasati dengan memperlambat saat sahur dan memepercepat saat buka. Dengan begitu, memperpendek waktu puasa. ”Misalnya sahur menjelang imsak,”tambahnya. ”Ketentuan ini kan jauh hari sudah disampaikan oleh Rasulullah juga,”ujar Hermawan.

Tetapi, bagi ibu yang baru mengandung pada trimester pertama atau usia 12 hingga 14 minggu, kehamilan biasanya cenderung berat. Saat itu adalah waktu untuk sang ibu menyesuaikan diri menerima embrio yang ada di rahimnya. Embrio secara medis termasuk barang asing dalam tubuh manusia. ”Embrio itu kan separuh milik bapak dan separuh milik ibu. Sehingga menjadi asing dan perlu menyesuaikan diri,”bebernya.

hamil-lapsusNah, dalam kondisi penyesuaian itu biasanya wanita hamil merasa mual lalu muntah-muntah. Sehingga dalam keadaan seperti ini ibu hamil memang dianjurkan tidak perlu berpuasa. ”Muntah-muntah itu akan kehilangan elektrolit dan yang akan terjadi dehidrasi,”kata dia. Kemudian beberapa gejala lainnya yang harus diwaspadai oleh ibu hamil adalah merasa lemas, rasa kontraksi di perut, perdarahan, dan keluar cairan ketuban. Jika hal ini terjadi, maka sebaiknya puasa dibatalkan. Atau mendatangi dokter untuk konsultasi apakah boleh melanjutkan puasa atau tidak. ”Jangan khawatir orang hamil tidak puasa tidak harus mengganti. Tetapi bisa dengan bayar fidyah (pengganti puasa),”tutupnya. (her/nen)

sumber : http://radarmalang.co.id/hamil-jangan-paksakan-diri-berpuasa-8671.htm

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *