Gaya Berburu Kopi Para Coffeeholic di Malang Raya

Gaya Berburu Kopi Para Coffeeholic di Malang Raya

Ada sejumlah penikmat kopi (coffeeholic) di Malang yang rajin berburu cita rasa kopi. Bahkan, tak permasalahkan ketika harus merogoh kocek jutaan rupiah demi mendapatkan rasa kopi terbaik atau berburu hingga ke luar negeri.  

 Bagi President Director PT Graha Mapan Lestari Hendra Sugianto, menikmati kopi kini bukan lagi soal urusan bersantai. Namun, sudah bergeser menjadi lifestyle demi menjamu rekan bisnisnya. Dari kafe-kafe itu lah tak jarang deal bisnis ratusan juta hingga miliaran rupiah bisa tersaji.

Pengusaha properti itu menuturkan, tren tersebut sudah mulai bermunculan sekitar dua tahun terakhir ini. Kerap kali deal bisnis yang dilakukan para pengusaha justru terjadi di kafe. ”Saat saya ke Jakarta, sering kami membatalkan rencana deal bisnis di kantor relasi. Kami makan siang sambil ngopi di kafe. Kalau di kafe, jadi bisa lebih cair ya,” ucap Hendra saat berbincang dengan Jawa Pos Radar Malang, kemarin.

Nah, tren itu kini mulai bermunculan di Malang. Dia menuturkan kerap kali melakukan deal bisnis di kafe. Oleh karenanya, tak heran jika kini bermunculan kafe-kafe yang menjadikan kopi sebagai sajian utamanya. Kafe jaringan skala nasional pun mulai bertebaran di Malang Raya.

Harga kopi yang ditawarkan pun bermacam-macam. Mulai secangkir dari harga Rp 12 ribu hingga Rp 100 ribu. Kopi yang disajikan pun beragam. Mulai kopi lokal Indonesia seperti kopi luwak, Gayo, Bali, kopi Toraja, dan lainnya. Termasuk kopi yang ditambah dengan aneka krimer dan bahan tambahan lainnya seperti moccachino, cappuccino, latte, dan lainnya.

lapsus coffeholic

Saking gemarnya mengonsumsi kopi, Hendra tak jarang sampai harus memburunya ke luar negeri demi mendapatkan rasa kopi terbaik. Dia suka membeli white coffee kesukaannya ke Singapura dalam kurun waktu tertentu. Dia adalah penikmat cappuccino, kopi latte, dan white coffee. Nah, untuk white coffee, dia selalu memberi produk Malaysia yang dibakar menggunakan charcoal (arang). Kopi tersebut dijual di Singapura dalam bentuk sachet. Satu paknya yang berisi 15 sachet bisa dijual ratusan ribu rupiah.

Kenapa harus ngopi? Hendra menjelaskan, dalam kopi ada kandungan kafein yang dipercaya memacu kerja otak. ”Saat jenuh dan capek, setelah ngopi, jadi segar lagi. Saya tidak begitu suka black coffee, harus ada krimernya atau bahan lainnya,” jelas pria berkacamata tersebut.

Menjalin perbincangan yang santai dan menjaga hubungan dengan relasi juga dilakukan oleh coffeholic Budi Susanto. ”Kalau saya, menikmati kopi itu harus sesuai dengan rasanya, aroma, dan suasana. Saat menikmati kopi, suasana harus mendukung, harus santai,” jelas Budi.

Pria yang menjabat sebagai Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jatim III tersebut menuturkan, secara pribadi, dia lebih menyukai kopi Toraja. Alasannya, karena dari segi aroma dan rasanya benar-benar pas sesuai dengan keinginan Budi. Untuk mendapatkan kopi-kopi terbaik, Budi sampai memiliki jaringan dengan distributor kopi di Medan. Budi juga pernah membeli kopi Luwak yang dihargai Rp 3 juta per 500 gramnya.

Meski bukan praktisi kopi, pria yang setiap hari harus mengonsumsi kopi tersebut menjelaskan, sedikit banyak dia mengerti tentang karakteristik kopi. ”Mana kopi Toraja asli atau campuran biasanya langsung bisa terlihat begitu kopi diseduh. Aromanya sudah beda,” jelasnya.

Coffeeholic lainnya, Obed Hariyono membenarkan jika saat ini mengonsumsi kopi bukan dominasi urusan menyesap kopi. Namun, juga mengarah ke deal bisnis. ”Meeting dengan klien, relasi, saat ini lebih enak dilakukan di kafe sambil ngopi,” kata pria yang memiliki jaringan tiga toko emas di Malang tersebut.

Meski begitu, alumnus jurusan food science di University of Wisconsin, Amerika Serikat itu menambahkan, di Malang belum ada kafe yang benar-benar menyediakan kopi sebagai sajian utama dan tak menjual sajian lainnya. Kafe di Malang lebih banyak di-mix dengan makanan lainnya.

Obed lebih suka kopi Toraja karena aromanya yang wangi. Selain itu, dia juga menyukai kopi Bali. Dalam sehari, seperti makan, dia bisa ngopi sebanyak tiga kali. ”Tetap kopi nusantara kalau saya,” kata dia.

Coffeeholic lainnya, Budi Susanto menyebutkan, kopi sudah menjadi bagian dari hidupnya. Sama seperti Obed, dia mengaku juga menyukai kopi Toraja. Selain itu, dia juga menyukai kopi Gayo dari Aceh, karena dianggapnya lebih enteng dalam hal rasa. ”Di Malang sudah cukup lengkap kok (penjualannya). Biasanya juga mengandalkan jaringan teman,” kata dia.

Tentang kopi Luwak, Budi menuturkan, dia tak begitu fanatik dengan kopi tersebut. Sebab, mencari kopi luwak yang benar-benar kopi luwak cukup sulit dilakukan. Kopi luwak hasil penangkaran, aroma dan rasanya jelas berbeda dengan kopi luwak yang berasal dari alam atau hutan. (didik harianto/dian ayu antika hapsari/c1/lia)

sumber : http://radarmalang.co.id/gaya-berburu-kopi-para-coffeeholic-di-malang-raya-10349.htm

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *