Gadis Cantik Ini Pimpin Pementasan Drama Musikal 50 Kali

Gadis Cantik Ini Pimpin Pementasan Drama Musikal 50 Kali

Malam itu (12/1), rintik hujan membasahi panggung outdoor Transformer Center, yang terletak di halaman SMA Selamat Pagi Indonesia. Meski begitu, panggung yang basah tak mengurangi semangat 100 siswa anggota drama musikal.

Mereka tampil all-out dalam membawakan drama musikal bertajuk Today Is Tomorrow. Diiringi laguMiracle yang pernah dipopulerkan diva pop Celine Dion, satu per satu pemain drama naik ke panggung.

Today Is Tomorrow mengisahkan perjalanan hidup seorang perempuan yatim. Dia hidup dalam lingkungan keluarga dengan tingkat ekonomi pas-pasan.

Namun, karakter sentral dalam pementasan tersebut tak menyerah dalam menggapai mimpinya. Hingga akhirnya, dia mampu pergi ke tempat yang diinginkannya, Paris, Perancis.

Alur cerita yang menyentuh, mampu menggugah emosi penonton. Drama Today is Tomorrow nampak seperti pertunjukan yang dipersiapkan dengan sangat detail.

Apalagi, ceritanya memang berangkat dari kisah nyata. Kisah perjalanan hidup sutradara drama musikal sekolah itu, Sheren Della Sandra.

Ya, Sheren memang berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi pas-pasan. Gadis 24 tahun ini lahir dan menghabiskan masa kecilnya di Madiun.

Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, Sheren sudah ditinggal mati ayahnya, Rochmat Pranoto. Demi menyambung hidup, sang ibu, Sri Mulyani, berjualan kue di rumah.

Kondisi tersebut membuat Sheren tak berani punya cita-cita tinggi. Selepas lulus SMP, Sheren bahkan sempat berencana untuk tak melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA. Dia ingin bekerja saja, membantu ibunya.

Hingga akhirnya, dia bertemu seseorang bernama Harianto, distributor produk multi level marketing(MLM) High Desert. Lewat Harianto itulah, Sheren mendapatkan akses untuk masuk ke SMA Selamat Pagi Indonesia.

Sekolah yang berada di Jalan Raya Pandanrejo Nomor 2, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu ini, dirintis Julianto Eka Putra, presiden komisaris PT Binar Grup.

SMA Selamat Pagi Indonesia banyak mengambil siswa dari golongan tak mampu. Mereka yang bersekolah di sana, tak perlu membayar sepeser pun.

Oleh karena itulah, Sheren tak perlu berpikir lama untuk mengiyakan tawaran dari SMA Selamat Pagi Indonesia. Dari sini, masa depan yang cerah, kelihatannya bisa diraih Sheren.

Apalagi, dia mendapatkan tawaran dari Julianto untuk memimpin drama musikal sekolah. ”Ko Jul (panggilan akrab Julianto) bertanya, ’Kamu mau atau tidak memimpin teman-temanmu membuat pementasan?’,” ujar gadis kelahiran 1993 ini.

Awalnya, Sheren sempat ragu. Sebab, dia tidak punya skill maupun pengalaman soal drama musikal. Tapi, Julianto terus memberinya motivasi.

Dorongan dari sang pendiri SMA Selamat Pagi Indonesia itu mampu mendongkrak kepercayaan diri Sheren. Dia pun memimpin 12 orang temannya untuk memainkan drama musikal berjudul Bole Chudiyan.

Ada alasan mengapa Sheren mengangkat tema tersebut. ”Saya penggemar film India,” terang Sheren, lalu tersenyum. Bole Chudiyan, seperti diketahui, menjadi salah satu lagu dalam film Bollywood, Kabhi Khushi Kabhie Gham.

Sheren ingat, penampilan perdana mereka kala itu, di panggung SMA Selamat Pagi Indonesia, amat sederhana. ”Kami hanya menggunakan senter satpam untuk pencahayaan panggung. Bahkan, Ko Jul ikut pegang senter sama Pak Satpam,” kenangnya, lalu tertawa.

Drama musikal itu berjalan sesuai harapan meski penontonnya hanya satu orang. Bahkan, dalam beberapa agenda berikutnya, tidak banyak orang yang memberikan atensi pada pementasan drama musikal siswa-siswi SMA Selamat Pagi Indonesia.

Namun, kondisi ini tak membuat Sheren menyerah. Dia dan rekan-rekannya terus meng-upgradekemampuan. Bahkan, pada Juli 2008, Sheren mendapatkan kesempatan yang mungkin, tak pernah dia bayangkan sebelumnya.

Sheren diajak Julianto untuk melihat pementasan drama musikal di Voyage de la Vie, Singapura. Dari pementasan tersebut, Sheren belajar soal membuat properti-properti di atas panggung. ”Tapi, Ko Jul tidak langsung membelikan kami perlengkapan panggung yang mahal. Dia meminta kami untuk berusaha dulu menggunakan apa yang ada di sekitar,” ujarnya.

Berkat kerja keras dan semangat belajar tiada henti, Sheren mampu merancang drama musikal yang lebih ’hidup’. Jumlah penonton pementasan drama musikal di sekolah yang awalnya hanya 1-2 orang itu, lambat laun meningkat. Dari belasan, lalu menjadi puluhan penonton.

Mereka juga tidak hanya show di SMA Selamat Pagi Indonesia. Tapi juga merambah tempat-tempat lain. Terutama, kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya.

Bahkan, di tahun 2011, kelompok drama musikal SMA Selamat Pagi Indonesia mendapatkan kesempatan emas tampil di sebuah acara kenegaraan, di Istora Senayan, Jakarta. ”Waktu itu, kami tampil di depan Bapak Wakil Presiden (Budiono),” ungkapnya.

Tak lama setelah pementasan di Istora Senayan tersebut, Sheren mendapatkan kesempatan untuk belajar konsep tata panggung di Shenzhen, Tiongkok. ”Saya juga belajar bagaimana memaksimalkan panggung dengan jumlah pemeran (artis) mencapai 100 orang,” kenangnya.

Meski sudah lulus dari SMA Selamat Pagi Indonesia, Sheren tetap mengabdikan diri untuk sekolah yang ’menyelamatkan’ hidupnya. Baginya, kelompok drama musikal sekolah tak hanya soal seni pementasan.

Tapi lebih dari itu, Sheren punya kesempatan untuk membagi pengalaman dan memberikan motivasi pada siswa-siswi SMA Selamat Pagi Indonesia. Apalagi, kebanyakan siswa berangkat dari keluarga tak mampu seperti Sheren.

”Saya ingin teman-teman di luar sana percaya bahwa mereka harus berani punya mimpi besar dan biarkan Tuhan memberikan triliunan jalan untuk mewujudkan itu,” kata Sheren yang kini juga berjualan aksesori di Pasar UMKM SMA Selamat Pagi Indonesia ini. (*/c4/muf)

 sumber: http://radarmalang.co.id/gadis-cantik-ini-pimpin-pementasan-drama-musikal-50-kali-62344.htm

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *