Edukasi Kesehatan Reproduksi: Dari Topeng Malangan Hingga Aplikasi Mobile

Edukasi Kesehatan Reproduksi: Dari Topeng Malangan Hingga Aplikasi Mobile

Pentas ‘tak biasa’ Wayang Topeng Malangan dengan judul Sayemboro Sodo Lanang di Padepokan Panji Asmoro Bangun, Pakisaji pada Minggu 09/10/2016. (Foto: W.Arief/Halomalang)

Ada pementasan ‘tak biasa’ Topeng Malangan di Padepokan Panji Asmoro Bangun, Pakisaji, Malang pada Minggu malam (09/10/2016). Bukan dari segi kostum, melainkan sisipan pesan yang disampaikan Tokoh Potrojoyo kepada para penonton.

Dalam bahasa Jawa, seperti ini yang disampaikan Potrojoyo dengan gaya mirip komedian masa kini. “Menjadi orang tua sekarang haruslah demokratis. Tidak boleh memaksakan kehendak, kaku terhadap anak (remaja). Berilah contoh yang bagus. Percintaan harus diawasi, jangan dikekang. Bekali anak-anak dengan budi pekerti dan budaya,”

Itu hanya sekilas sesi penyampaian pesan (edukasi) yang dibangun ke penonton pertunjukan malam itu. Sang Dalang Topeng Malangan juga turut menyambung beberapa joke-joke Potrojoyo dengan kondisi kekinian, khususnya yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi remaja.

 

Tak hanya lelucon, Potrojoyo, tokoh dalam pementasan ‘Sayemboro Sodo Lanang’ juga menyampaikan edukasi terkait pubertas. Minggu 09/10/2016. (Foto: W.Arief/Halomalang)

Pubertas, gejala pergaulan yang tidak sehat, penyakit yang ditimbulkan, hingga harmoni keluarga turut dibahas tanpa menyinggung pribadi siapapun. Hanya dikaitkan dengan lakon ‘Sayemboro Sodo Lanang’ dengan tokoh utama Raden Gunungsari yang tengah mengikuti sayembara untuk mendapatkan jodoh.

“Saling mencintai tentu saja boleh, tapi jangan melanggar batas. Karena kalian inilah yang akan menjadi contoh di masa mendatang,” pungkas Potrojoyo kepada penonton yang banyak di antaranya adalah mahasiswa Univ. Negeri Malang.

 

Pemeran Wayang Topeng Malangan juga dari kalangan remaja. Minggu 09/10/2016. (Foto: W.Arief/Halomalang)

Rudi Irawanto, sang penggagas pertunjukan- yang juga Dosen Seni Desain Universitas Negeri Malang menyebut pementasan ini adalah hal baru. Kerjasama dengan Kementerian Kesehatan RI untuk kampanye Kesehatan Reproduksi Remaja.

“Kita juga menggandeng dari Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) UM untuk materi kesehatannya. Masalah reproduksi hingga pra-nikah kami sampaikan dalam media seni,” ujar Rudi usai pementasan.

Tak heran jika penampil malam itu adalah juga para remaja dan anak-anak, Ngalamers. Menurut Rudi, pementasan ini adalah langkah awal program hibah kompetitif dengan Litbang Kemenkes.

 

Tak hanya pentas budaya. Tahap akhir dari program hibah kompetitif ini adalah dibuatnya aplikasi mobile. Minggu 09/10/2016. (Foto: W.Arief/Halomalang)

“Litbang Kemenkes memiliki program edukasi ke masyarakat melalui budaya. Kami dari Malang akhirnya mengangkat Seni Topeng Malangan yang memang asli dan dikenal,” imbuhnya.

Di Jawa Timur, selain Malang, program ini juga dilaksanakan Kemenkes di wilayah Madura yang mengangkat kehidupan masyarakat ‘pasir’.

“Ini belum final. Tahap pertama, bisa disebut masa uji. Nanti bentuk akhirnya akan menjadi bentuk aplikasi mobile sehingga bisa diakses lebih luas,” pungkas Rudi.

sumber : http://halomalang.com/news/edukasi-kesehatan-reproduksi-dari-topeng-malangan-hingga-aplikasi-mobile

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *