Dohan Kusuma Wardhana, Pembalap Off-Road Langganan Juara Sejak Masih Umur 9 Tahun

Dohan Kusuma Wardhana, Pembalap Off-Road Langganan Juara Sejak Masih Umur 9 Tahun

Meski masih berusia 21 tahun, Dohan Kusuma Wardhana memiliki jam terbang tinggi di lintasan offroad. Dia mulai mengenal dunia offroad sejak berusia tujuh tahun. Sejak saat itu, sudah lebih dari 25 kejuaraan yang dia menangkan.

–FAJRUS SHIDDIQ–

TANGAN Dohan Kusuma Wardhan terlihat cekatan saat mengerjakan mobil tubular custom (mobil dengan rangka pipa-pipa besi) bermesin Cherokee 4.700 cc, di rumahnya, Desa Ardimulyo, Kecamatan Singosari, Kamis (9/2). Mobil tubular customitu dia siapkan untuk mengikuti beberapa agenda kejuaraan nasional (kejurnas) reli di tahun ini.

Selain tubular custom yang sedang dia garap, sebanyak dua mobil reli lain terparkir di halaman rumahnya. Semuanya, tentu saja bisa menjadi senjata bagi Dohan untuk kembali memenangkan kejuaraan reli.

Selama berkiprah di lintasan reli, Dohan sudah 25 kali meraih trofi. Di antaranya, juara 1 Kejurnas Penzoil Speed Offroad 2008 hingga juara 2 Pasuruan Speed Offroad 2015.”Kalau bicara soal reli, saya jadi ingat waktu masih kelas 2 SD (tahun 2002),” kata putra pasangan Kusnan-Hendra Winarti tersebut.

Waktu itu, Dohan tercatat sebagai siswa SDK St. Fransiskus Lawang. Usianya juga baru tujuh tahun. Saat mayoritas anak-anak seusianya masih asyik dengan sepeda gowes, Dohan justru mulai belajar mengendarai mobil. Dia belajar dari ayahnya yang juga pemilik bengkel off-road.

Tak tanggung-tanggung, mobil yang dia kendarai pertama itu, tergolong besar. Yakni,mobil tubular custom berkapasitas mesin 2.000 cc. Tentu saja, bukan perkara mudah bagi anak umur tujuh tahun mengendarai mobil dengan kapasitas mesin sebesar itu.

Dari sisi postur, Dohan jelas belum ideal. ”Jadi, harus ada pengganjal di bagian punggung supaya bisa duduk tegak waktu nyetir,” beber remaja kelahiran 6 Maret 1995tersebut.

Dalam setahun, Dohan sudah bisa mengemudikan mobil offroad dengan baik. Sang ayah, kemudian mengajak Dohan untuk latihan lebih serius di sirkuit Kampus 2 Institut Teknologi Nasional (sekarang ditempati SMK Maarif Singosari).

Dohan mengasah kemampuannya di lintasan offroad selama setahun. Hanya butuh setahun bagi Dohan untuk mematangkan skill-nya.

Sang ayah kemudian membawa Dohan untuk ikut Kejuaraan Daerah (Kejurda) Malang Raya, di Poncokusumo, 2004 lalu. ”Waktu itu, saya masih 9 tahun. Untuk ikut kejuaraan, orang tua harus tanda tangan surat rekomendasi di atas materi. Apalagi, saya berlomba di kelas untuk umum. Lawan-lawannya seusia ayah saya,” ujar dia.

Di luar dugaan, Dohan ternyata moncer pada lomba pertamanya. Dia meraih juara 1 di kelas technical classic. Sebuah awal yang baik bagi seorang pembalap cilik, kala itu. Sebab selanjutnya, Dohan pede menghadapi kejuaraan yang levelnya lebih tinggi, yakni kejurnas.

Di tahun 2005, ketika menginjak usia 10 tahun, Dohan sudah mampu naik podium. Yakni, meraih juara 2 kelas T1B Kejurnas Speed Offroad.

Kemudian, pada 2007, Dohan mendapatkan apresiasi khusus dari Ikatan Motor Indonesia (IMI). ”Waktu itu, saya baru turun panggung setelah menerima piala juara 2 Kejurnas Speed Offroad di Tulungagung. Tapi kemudian, dipanggil lagi untuk menerima penghargaan Pembalap Kecil Asia,” kenang dia.

Penghargaan itu diberikan IMI atas kiprah Dohan selama ini. Waktu itu, belum ada anak yang begitu aktif dalam mengikuti kejuaraan reli seperti Dohan.

Tapi, kiprah Dohan di lintasan reli tak selalu mulus. Di tahun 2010, dia kecelakaan saat berlatih di sirkuit Singhasari Residence, Desa Klampok, Kecamatan Singosari.

Waktu itu, mobil yang dikendarai Dohan nyungsep dan terbalik. Dohan harus dilarikan ke puskesmas karena tangan kirinya cedera. ”Sebenarnya tidak serius. Tapi saya harus istirahat tiga bulan. Tidak boleh latihan, apalagi ikut kejuaraan,” kata pemuda yang saat ini tercatat sebagai mahasiswa Teknik Industri ITN Malang tersebut.

Bagi Dohan, harus rehat meski hanya sementara itu, tidak mengenakkan. Untungnya, ada aktivitas lain yang bisa dia kerjakan.

Berawal dari koneksi yang dimiliki pamannya, Dohan bisa ikut syuting Si Unyil di tahun 2010. Bahkan, di awal 2011, Dohan juga ikut syuting Petualangan Si Bolanguntuk tayangan televisi nasional. ”Mereka (produser Si Unyil dan Si Bolang) memangmencari offroader cilik,” terang dia.

Namun, Dohan mengungkapkan, syuting untuk produksi televisi nasional ini sifatnya hanya selingan. Dia belum punya keinginan untuk terjun di dunia hiburan. Baginya,offroad masih jadi yang utama.

Ke depan, Dohan berharap bisa kembali meraih juara di ajang tingkat daerah maupun nasional. ”Saya ingin membuat bangga orang Malang,” pungkasnya. (*/c4/muf)

sumber: http://radarmalang.co.id/dohan-kusuma-wardhana-pembalap-off-road-langganan-juara-sejak-masih-umur-9-tahun-62425.htm

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *