Cello, Bocah Sembilan Tahun yang Jago Dalang

Cello, Bocah Sembilan Tahun yang Jago Dalang

Jika sebagian besar anak berusia sembilan tahun senang bergelut dengan gadget dan games, maka lain ceritanya dengan siswa kelas empat SD Kristen Kalam Kudus Malang, Elfrado Dee Vernandacello ini. Karena dalam kesehariannya, bocah yang akrab disapa Cello itu ternyata senang bergaul dengan Semar, Gatut Kaca, hingga Rahwana melalui koleksi wayang kulit yang dimilikinya.

Bahkan, tak hanya sekedar mengoleksi, Cello pun menggunakan wayang-wayang itu layaknya dalang profesional. Kini, dia pun sudah beberapa kali diundang dan memerankan berbagai jalan cerita di atas panggung.

 

Kecintaanya terhadap pewayangan bermula dari kado istimewa yang diberikan sang ibu pada malam Natal, tujuh tahun lalu. Satu set wayang kulit dengan tidak lebih dari 10 perwatakan itu ternyata tak hanya menjadi temannya bermain. Karena keunikannya, Cello pun merasa kecanduan dan selalu meminta dibelikan produk kesenian tersebut.

“Sekarang, koleksi wayang saya sudah lebih dari 70,” katanya pada Media ketika ditemui di sekolahnya, beberapa saat lalu.

Dalang cilik ini memang sudah beberapa kali diundang dalam berbagai pertunjukan wayang. Bahkan, ia harus duduk bermain wayang setidaknya empat jam dalam setiap pertunjukan yang dilakukan. Menariknya, setiap pewayangan yang ia mainkan tidak pernah luput dari kesannya sebagai anak. Namun, berbagai pesan masih selalu ia salurkan dengan gayanya yang unik, dan tak jarang memancing penonton tertawa.

Selain menggunakan bahasa jawa, penggemar Ki Manteb ini juga mendalang menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Bahkan, tak jarang pula ia memainkan tokoh sesuai dengan jalan cerita yang ia buat sendiri dengan didampingi ke dua orangtuanya.

“Seperti ketika pertunjukan di sekolah beberapa waktu lalu, cerita yang diangkat tentang globalisasi,” celoteh Cello sembari tersenyum.

Sementara ketika ditanya terkait alasannya menyukai wayang kulit, dia pun menjawab karena wayang adalah kesenian dan budaya asli Indonesia. Sehingga harus terus dijaga dan dilestarikan. Sebab bila tidak, generasi bangsa Indonesia tidak akan pernah mengenal budaya kita.

“Saya sangat suka sekali dengan wayang kulit, dan tidak pernah merasa bosan meski harus menonton pertunjukan sama Papa (sang ayah) selama sembilan jam, dari tengah malang sampai pagi,” jawabnya dengan mata berbinar.

Karena kecintaannya itu, dia pun bercita-cita menjadi seorang pengusaha wayang kulit sekaligus dalang yang profesional. Dia pun yakin, uang yang dihasilkannya dari usahanya kelak itu dapat membawa nama wayang kulit lebih mengglobal.

Meski begitu, ia tidak sedikitpun menyia-nyiakan waktu belajar dan bermainnya. Untuk menyambung hobinya itu, ia memilih les di Dewan Kesenian Malang setiap satu minggu sekali. Sementara sejak satu tahun belakangan, ia juga mulai konsentrasi mempelajari musik gamelan.

Menurutnya, tidak ada alasan baginya untuk merasa bosan dengan dunia wayang kulit. Sebab setiap tokoh yang dimainkan itu menyimpan beragam alasan dan pesan. Seperti tokoh kesayangannya Semar misalnya, dengan tampilan mata yang seperti menangis, tapi mulut yang tertawa.

Wajah itu, lanjutnya, menggambarkan, bahwa di dunia ini ada kesedihan dan kebahagiaan. Begitu juga dengan tokoh pewayangan lain, yang selalu hadir dengan banyak makna dengan jalan cerita yang berbeda pula. Semua mengandung pesan bagi siapapun yang mendengarkan dan menonton setiap pertunjukan wayang.

sumber : https://malangtoday.net/rubrik/story/cello-bocah-yang-jago-dalang/

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *