Candi Badut dan Performatif Nusantara

Candi Badut dan Performatif Nusantara

“Sebenarnya, Candi Badut sebagai sebuah situs bisa digunakan sebagai ajang untuk mengekspresikan apapun,” kata Dwi Cahyono, Arkeolog Universitas Negeri Malang.

Puluhan tahun lalu, ketika Priyo Sunanto Sidhy kecil ditugaskan ayahnya menggembalakan kambing, ia sering melantunkan nasehat luhur dalam nyanyian (uro-uro) dengan iringan seruling bambu.

“Sekarang saya cari bambu di mana? anak bangsa ini ke mana? sekarang bambu sudah tidak ada,” ujar Priyo sambil memegang sebilah seruling fiber yang baru saja ia mainkan. Rupanya lantunan ‘Kidung Rumongso Ing Badut’ dari serulingnya adalah ungkapan protes, sekaligus kerinduan.

“Kita sedang merindukan nyanyian anak bangsa. Kenapa kidung budaya ini tidak dikumandangkan kepada anak didik kita, dari SD hingga Perguruan Tinggi. Mereka banyak yang tidak tahu kidung hasil karya pujangga-pujangga kita,” sambung seniman Kampung Cempluk ini dalam sesi bedah karya Ring of Performance – Peformatif Nusantara, Minggu (14/02/2016) di areal Candi Badut, Malang.

Tari Topeng oleh seniman tari Yongki Irawan (kiri) di Performatif Nusantara – Ring of Performance. Minggu, 14/02/2016 (Foto: W.Arief/Halomalang)

Priyo tak sendirian, beberapa seniman gerak tubuh lain juga unjuk karya di candi yang dibangun sebelum abad ke 10 ini. Multi disiplin, Ngalamers. Di tempat dan waktu yang sama, kreasi berbeda.

Zeyhan dengan ‘Bahasa Ibu’ berusaha menggali nilai-nilai yang dicontohkan leluhurnya. Merangkai cabe dan bawang merah di ujung sapu lidi. Di sampingnya tergeletak beberapa mainan tradisional, tempeh, dan guci berisi air. Simbol-simbol yang memaknai peran penting orang tua khususnya seorang ibu dalam menjaga sebuah keluarga.

“Ketika cucunya masih di sekolah, eyang menaruh sapu lidi terbalik yang ujungnya dikasih cabe dan bawang merah,” kata Zeyhan. Ritual ini merupakan simbol do’a kepada Tuhan agar selalu dilindungi.

Dari kiri. ‘Belum Ada Judul’, ‘Bahasa Ibu’, dan ‘Cokelat’ di Performatif Nusantara yang digelar di kompleks Candi Badut. Minggu, 14/02/2016 (Foto: W.Arief/Halomalang)

Sementara Dapeng dan Vivi bertutur tentang keseimbangan interaksi antar manusia, Braga dengan ‘Nol’-nya menyimbolkan pencarian makna hidup dengan mengelilingi area Candi. Seniman lain, Gilang, membawakan tema berjudul ‘Pembelokan’. Budaya cokelat (baca: asing) yang kian lebih populer daripada budaya asli Indonesia dituangkan Firdaus dalam lukisan Candi Badut: dengan media cokelat.

Protes lain yang lebih lokal, tentang banyak dibangunnya spot-spot selfie di Kota Malang disampaikan Sogea. Ia adalah warga pendatang. “Sebelum saya perform di Candi Badut. Saya mendatangi 4-5 spot yang dibangun Pemkot Malang untuk Selfie. Saya foto-foto di situ dengan menutup wajah,” kata Sogea. “Kenapa enggak anggaran untuk spot-spot baru di Malang itu dialihkan ke sini saja (Candi Badut),” pungkasnya. Candi Badut secara administratif terletak di Kec. Dau, Kabupaten Malang.

 

‘Nenek Moyangku Seorang Pelaut’. Performance Art oleh Bejo Sandy. Minggu, 14/02/2016 (Foto: W.Arief/Halomalang)

Ternyata, selain sebagai sebuah situs, Candi Badut juga bisa menjadi ruang penyajian beragam ekspresi seni. Seperti yang dituturkan Bejo Sandy dalam performance-nya yang berjudul ‘Nenek Moyangku Seorang Pelaut’. Kejayaan Nusantara dulu dengan maritimnya. Sriwijaya, kerajaan maritim yang mampu mencapai Madagaskar. Majapahit punya 5 armada yang bisa menjaga nusantara. “Sekarang apa? Kita negara kepulauan tapi maritimnya payah. Kita bahkan dulu pernah punya kapal induk yang bernama Jung Jawa,” kata seniman yang lahir di Maluku ini.

Maritim yang ia maksud adalah berdasarkan pada perdagangan. Merosotnya era maritim ke era darat saat ini, kata Bejo, termasuk dalam hal perdagangan. “Kita dijajah oleh mereka (bentuk perdagangan modern), yang jadi masalah sekarang itu seperti perang,”.

Puluhan minatur kapal kertas warna-warni, beberapa di antaranya batik ia tata di atas bahtera kain putih. Lalu bejo berguling maju-mundur menggilas armada tersebut. 6 di antaranya masih utuh. “Saya protes pada sistem dagang, yang itu bagaimanapun menyebabkan Indonesia dari negara maritim yang jaya, sekarang hancur, perdagangan hancur,” pungkas Bejo.

Sebelum Nusantara-Nusantara-Indonesia sekarang. Performance art oleh MAPAC. Minggu, 14/02/2016 (Foto: W.Arief/Halomalang)

Apa yang coba disampaikan Malang Performance Art Community (MAPAC) dalam Performatif Nusantara kali ini adalah era sebelum Nusantara, ada Nusantara dan Indonesia yang sekarang. Bejo dkk menampilkan performance art untuk deklarasi Ring of Performance. Jaringan performer di Indonesia, mereka menggelar pertunjukan serempak di beberapa kota seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Malang, Bali, Kupang bahkan Hungaria.

Performatif Nusantara di Candi Badut ini juga dihadiri oleh seniman tari Malang, Yongki Irawan serta Arkeolog Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono.

Candi Badut, situs bersejarah yang dibangun di era Kanjuruhan. Minggu, 14/02/2016 (Foto: W.Arief/Halomalang)

Dwi Cahyono menilai jika tema besar yang disampaikan beberapa pertunjukan seni tersebut berkenaan dengan air. “Ini adalah sympathetic magic. Salah satunya upaya mendatangkan hujan yang diakhiri dengan terkucurnya air dari guci (dalam karya Bahasa Ibu),” ujar Dwi Cahyono, dalam orasi budayanya.

Menurut Dwi ini sangat menarik Ngalamers. Berkaitan dengan Candi Badut yang terletak di bantaran Kali Metro. Sungai yang dianggap sebagai ‘Air Keabadian’ yang bersumber dari Gunung Kawi yang juga dianggap suci pada masa Kanjuruhan, era ketika Candi Badut dibangun.

“Candi Badut merupakan saksi sejarah, monumen yang menandai tentang awal kesejarahan. Bukan saja kesejarahan Malang Raya, tapi sekaligus kesejarahan Sakarida Jawa,” pungkas Dwi.

sumber : http://halomalang.com/news/candi-badut-dan-performatif-nusantara

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *