Batik Malangan Terbukti Ada Sebelum Tahun 1900-an

Batik Malangan Terbukti Ada Sebelum Tahun 1900-an

Malang terkenal dengan makanannya berupa bakso, dan apel. Bagi pecinta sepak bola, siapa yang tidak kenal dengan Arema Singo Edan. Dari segi wisata, di Malang juga terkenal dengan tempat wisata Jatim Park. Tapi siapa yang tahu dengan Batik Malang atau yang lebih dikenal dengan nama Batik Malangan.

Batik Malang memang belum sepopuler batik yang ada di daerah Jawa, namun keindahaan Batik Malang tidak kalah bagusnya dengan batik yang ada di daerah lain karena memiliki corak batik tersendiri yang khas dan unik. Sesuai data peninggalan sejarah Kerajaan Singhasari dan Majapahit, motif hias batik telah dipakai oleh para raja dan permaisuri, serta terukir pada relief patung di kompleks candi yang ada di kota Malang ini. Dari kenyataan ini membuktikan bahwa keberadaan batik di Kota Malang telah ada sebelum tahun 1900-an. Batik tersebut selalu mempunyai motif Sidomukti Malang dengan hiasan kotak putih di tengah yang biasa disebut Modhang Koro. Motif ini dipakai sebagai udheng (laki-laki) dan sewek (perempuan) dalam acara resmi untuk semua lapisan masyarakat.

Adapun motif hias batik yang ada pada benda-benda peninggalan sejarah seperti motif hias ceplok pada Patung Durga, Patung Pradnya Paramita, Patung Syiwa, Patung Brahma, dan Patung Ganesha di situs Candi Singhasari. Berdasarkan pada hal tersebut, batik Malangan harus terus digali keanekaragaman motifnya agar warisan budaya ini tidak musnah begitu saja dan tidak diambil alih dan diakui oleh bangsa lain.

Motif-motif batik Malang antara lain:

  • Sawat Kembang Pring (motif bambu Jawa sakbarong)
  • Dele Kecer (hijau-merah)
  • Teratai Singo
  • Kembang Kopi (gambar kopi dibelah dua berwarna hitam)
  • Kembang Juwet (biru-hijau)
  • Kembang Tanjung (kuning-sawo matang, bentuk bunga bulat tengah pinggir bergerigi)
  • Kembang Jeruk (coklat)
  • Kembang Manggar (putih-kuning)
  • Kembang Mayang (merah-kuning)
  • Kembang Padma (teratai)
  • dan lain sebagainya

Sampai saat ini, batik Malang masih belum begitu familiar bagi masyarakat Indonesia. Namun penggalian motif batik Malang masih terus diusahakan oleh pemerintah Malang bersama organisasi-organisasi terkait lainnya. Hal ini dilakukan agar jangan sampai batik Malang menjadi punah dan tetap bertahan menjadi warisan budaya Indonesia.

Motif batik yang menjadi ciri khas Malangan tersebut dapat diperoleh dari candi-candi yang merupakan peninggalan Kerajaan Kanjuruhan dari abad ketujuh. Salah satu motif yang menjadi ciri khas Malangan tersebut adalah motif bunga teratai. Batik Malangan memiliki tiga ciri pokok dan menjadi bagian dari tiga komponen pokok batik, yakni pertama pada tanahan atau dasar yang diambil dari motif batik di Candi Badut yang merupakan peninggalan Kerajaan Kanjuruhan tahun 760 Masehi. Komponen kedua berupa motif pokok (hias isian) diisi dengan gambar tugu Malang yang diapit oleh rambut singa pada sisi kiri dan kanannya sebagai lambang Kota Malang, serta komponen ketiga adalah motif hias untuk tumpal (pinggiran plus isen-isen) yang diisi tiga sulur yang membentuk sebuah rantai. Motif hias berupa sulur-sulur bunga yang dimaksudkan untuk menggambarkan Malang sebagai kota bunga.

Terdapat salah satu motif yang unik dan khas dari Batik Malang yaitu motif Malang Kucecwara. Motif ini memiliki filosofi yang mendalam yaitu terdapat simbol gambar Tugu Malang, Mahkota, Rumbai Singa, Bunga Teratai, Arca, dan Sulur-sulur serta isen isen belah ketupat. Tugu Malang merupakan simbol kota Malang yang merupakan prasasti berdirinya kota tersebut. Juga sebagai perlambang keperkasaan dan ketegaran. Diharapkan pemakainya menjadi orang yang kuat dan tegar dalam menjalani kehidupan. Mahkota merupakan simbolisisasi Mahkota Raja Gajayana yang pernah membawa Malang mencapai puncak kejayaannya. Diharapkan pemakainya bisa mencapai puncak kejayaan dalam hidupnya.

Rumbai Singa melambangkan ikon kota Malang yang berjuluk “Singo Edan”, yang melambangkan semangat yang menyala-nyala dan pantang menyerah. Diharapkan pemakainya juga senantiasa memiliki sifat yang demikian. Bunga Teratai merupakan salah satu simbol kota Malang, yang melambangkan keindahan juga kesuburan. Pada cerita kuno, bunga teratai merupakan bunga tempat Dewa Wishnu, dewa pemelihata alam, bertahta. Diharapkan pemakainya senantiasa subur makmur dan terpelihara jiwa dan raganya. Arca merupakan perlambang kekayaan khasanah kota Malang yakni candi Singosari yang pernah menghantarkan Malang menjadi salah satu kekuatan dunia di Nusantara pada masa silam. Diharapkan, pemakainya senantiasa berjaya.

Sulur-Sulur merupakan simbol bahwa kehidupan itu akan terus berlangsung, tumbuh dan berkembang. Ada sulur yang terhenti sebagai simbol bahwa kehidupan tidak kekal, namun, sebelum terhenti ada sambungan berikutnya. Yang menunjukkan bahwa manusia itu akan musnah, namun akan selalu berganti generasi yang baru Diharapkan pemakainya senantiasa bisa introspeksi diri bahwa manusia itu makhluk yang fana. Isen-Isen Belah Ketupat merupakan simbol dari relief candi Badut yang merupakan salah satu khasanah kekayaan budaya Kabupaten Malang. Belah ketupat memberi makna, pengakuan bahwa manusia tidaklah sempurna, sehingga sangat tidak pantas untuk menyombongkan diri. Dijharapkan pemakainya bisa senantiasa introspeksi diri. Dulunya batik ini dibuat dengan teknik printing karena kerumitannya, namun saat ini justru dikerjakan secara handmade dan telah ada hak patennya sehingga tidak bisa sembarangan diperbanyak.

Sumber : Malangkota, fitinline

 sumber : http://halomalang.com/serba-serbi/batik-malangan-terbukti-ada-sebelum-tahun-1900-an

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *