Basis Penguatan Budaya, Kampung Sebagai Lumbung Ide

Basis Penguatan Budaya, Kampung Sebagai Lumbung Ide

Meski baru akan dihelat pada bulan September 2016, ‘pemanasan’ menyambut acara tahunan Kampung Cempluk Festival (KCF) #7 sudah dimulai pada Sabtu, (07/05/2016) kemarin di Dusun Sumberjo, Kalisongo, Kabupaten Malang.

Pre event bertajuk ‘Cempluk Dalam Bunyi dan Gerak’ kali ini, Kampung Cempluk bekerjasama dengan mahasiswa Pendidikan Seni Tari dan Musik, Fakultas Sastra Univ Negeri Malang. Acara ini sekaligus penutupan Proyek Kreatifitas Mandiri (PKMM) yang mereka gelar selama beberapa bulan.

“Salah satu tujuannya adalah bagaimana para mahasiswa mendedikasikan ilmunya di bidang budaya seni. Kami melihat di sini (Kampung Cempluk) merupakan embrio desa wisata. Kami berharap kerjasama pertama ini akan berlanjut di tahun-tahun berikutnya,” kata Dra. Endang Woro Suprihatin, M.Pd, Dosen Pembina PKMM. Kehadiran perwakilan Jaringan Kampung Nusantara (Japung) di event ini juga mendapat apresiasi dari Woro.

PKMM sendiri adalah bentuk lain dari KKN (Kuliah Kerja Nyata) yang seringkali dikenal. Selama beberapa bulan para mahasiswa ini mentrasnfer ilmu mereka langsung ke warga, diantarnya seni perkusi, tari, dan manajemen organisasi kepada para pemuda karang Taruna Sumberjo.

Redy Eko Prastyo, Program Director KCF menyambut baik bentuk-bentuk kerjasama seperti ini. Transfer ilmu secara langsung dan berkelanjutan dari para akademisi termasuk penggalian ide, dari konsep ‘Kampung sebagi lumbung ide’ yang ia sampaikan. “Geliat kampung di Nusantara kini semakin seksi, sesuatu yang tentunya harus dihidupkan oleh kampung-kampung yang lain. Ini menurut kami berarti kampung sebagai lumbung ide,” ujarnya.

‘Sesuatu’ yang dimaksud Redy adalah ide-ide, dan perwujudannya dalam ruang kreativitas yang berbasis kebudayaan. Ruang – ruang ini tak terbatas bangunan fisik yang besar semacam gedung kesenian, atau semacamnya Ngalamers.

“Adanya pondok-pondok pesantren, sanggar, padepokan adalah beberapa contohnya. Tentu di dalam ruang-ruang tersebut banyak bergentayangan ide. Termasuk di tengah masyarakat kampung sendiri,” ujar Redy. “Ini menginspirasi apapun, yang ada integrasinya dengan katakanlah bagaimana membangun Indonesia,”

Tapi menurut seniman dawai ini, Kampung (di Indonesia) selalu diidentikkan dengan masyarakat kelas dua. “Sehingga klaim terhadap ide dan gagasan yang bermunculan dari kampung  tertutup. Untuk itulah perlu sinergi semacam ini,” tegasnya kepada Halomalang.

Kerjasama dengan akademisi di Malang tak hanya dengan PKMM kali ini saja, sebelumnya dan masih berjalan hingga sekarang, Kampung Cempluk bekerjasama dengan Universitas Ma Chung dalam transfer ilmu. Redy berharap universitas lain juga bisa membuat program riil pendampingan pengkaryaan yang bersinergi langsung dengan masyarakat kampung.

“Kami menganggap KCF seperti hari raya kebudayaan kampung. Pola gerakan dilakukan di Kampung Cempluk mampu menginspirasi kampung lain di nusantara. Desember kemarin kami mendeklarasikan Jaringan Kampung Nusantara di Festival Kampung Temenggungan Banyuwangi. Terus terang inspirasinya mereka ingin memiliki ruang kebudayaan seperti Cempluk,” jelas Redy.

Event-event festival lain berbasis penguatan budaya yang dicontohkannya adalah gelaran Argopuro Festival (Situbondo), Festival Kampung Handil (Kukar/Kaltim). Termasuk Festival Lima Gunung di Jawa Tengah yang sudah berlangsung belasan tahun.

“Kampung-kampung lain harus bergerilya, memilik kepercayaan diri juga. Refleksinya kita bisa mengubah mindset kampung sebagai masyarakat kelas dua,” imbuhnya.

Penggalian gagasan seni, budaya, maupun sejarah kelokalan warga kampung di Malang juga tengah digiatkan akhir-akhir ini. Salah satunya dari acara Sonjo Kampung yang di dalamnya berada para seniman, budayawan, dan akademisi di Malang. “Konsepnya kampung berbagi ide. Memunculkan gagasan baru,” pungkasnya.

Gagasan tersebut akhirnya juga diwujudkan dalam karya nyata yang upayanya bisa berdampak pada ekonomi warga sekitar. Contohnya adalah gelaran festival seni budaya yang mengangkat potensi kampung.

sumber : http://halomalang.com/news/basis-penguatan-budaya-kampung-sebagai-lumbung-ide

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *