Ada KTP Khusus Anak Kos di Gadingkasri

Ada KTP Khusus Anak Kos di Gadingkasri

Satu per satu potensi dari masing-masing kelurahan di Kota Malang mulai terungkap. Misalnya, Kelurahan Gadingkasri yang mampu membuat terobosan dengan menerbitkan kartu khusus anak kos. Kartu yang dikenal dengan sebutan ”KTP anak kos” itu dikeluarkan ketua rukun warga (RT). Terobosan itu terungkap saat penjurian Otonomi Award Kelurahan 2017, lomba kelurahan yang diselenggarakan pemerintah Kota Malang (Pemkot) Malang, Kamis (6/4).

 

Dari 57 kelurahan se-Kota Malang, ada 54 kelurahan yang diikutkan dalam Otonomi Award Kelurahan 2017. Namun, tiga kelurahan lainnya tidak diikutkan karena sudah menyabet juara di Otonomi Award pada tahun-tahun sebelumnya. Yakni, Kelurahan Tlogomas, Kasin, dan Tasikmadu.

Sekretaris RW 06 Kelurahan Gadingkasri Indrawanto menyatakan, kartu khusus anak kos tersebut bertujuan mengantisipasi kerawanan di wilayah Gadingkasri. Itu seperti jika ada warga yang masuk wilayah Gadingkasri saat malam hari, mereka harus bisa menunjukkan kartu anak kos.

”Kadang, ada yang berasal dari luar Malang dan mempunyai adat berbeda. Contohnya, masih menerima tamu meski sudah larut malam. Jadi, dengan kartu ini, kami bisa mengendalikan hal tersebut,” ujar Indrawanto, kemarin.

Untuk mengurusnya, penghuni kos hanya dikenai biaya Rp 10 ribu. Hingga kini, sudah ada 200 penghuni kos yang mempunyai KTP anak kos tersebut. ”Masa berlaku kartu anak kos ini sampai satu tahun,” katanya.

BERITA TERKAIT
  • Madyopuro Populer di Mancanegara

  • Bando Jalan Mulai Dibongkar

  • Pertama di Indonesia, 5.000 Penari Bakal Pecahkan Rekor Muri

  • Anton Jamin Dana Rp 41 M Cair

Sementara itu, di Kelurahan Oro-Oro Dowo, ada Bank Berjalan. Supriyani, warga RW 09, menerima titipan uang dari para pedagang di Pasar Oro-Oro Dowo. Dia pun menyimpan uang titipan tersebut, lalu meminjamkannya kembali ke pedagang lain. ”Mereka menitipkan sejumlah uang ke saya, tanpa administrasi dan potongan sepeser pun. Istilahnya yamenabung,” kata perempuan yang juga sekretaris RW 09 itu.

Program penitipan itu dijalankan sejak 2010. ”Saya hanya membantu menyimpannya. Bila ada yang pinjam, itu juga dari uang mereka sendiri,” kata dia. ”Hingga sekarang, ada sekitar 20 pedagang yang memanfaatkan program tersebut (Bank Berjalan),” tambah Anik, sapaan akrab Supriyani.

Anik menjelaskan, dia menjalankan sistem Bank Berjalan untuk meminimalisasi risiko yang diterima pedagang. ”Kalau meminjam uang milik sendiri, kan tidak terbebani. Juga menjauhkan agar tidak terjerat bank titil,” ungkap dia. Hingga saat ini, sudah ada 20-an pedagang yang memanfaatkan program tersebut.

Di Kelurahan Tulusrejo, tim juri Otonomi Award Kelurahan 2017 pun disambut berbagai atraksi budaya. Ada seni kuda lumping yang dipersembahkan siswa-siswi SDN Tulusrejo 2, hingga suguhan berbagai produk warga. Di antaranya, glass painting yang dikirim sampai ke luar pulau dan kerajinan tangan berbahan dasar daun pandan. Selain itu, terdapat inovasi warga di bidang kesehatan, yaitu gang terapi untuk kesehatan. (fis/c3/dan)

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *