4 Perayaan Tahun Baru Unik di Berbagai Suku Indonesia

4 Perayaan Tahun Baru Unik di Berbagai Suku Indonesia

1. Suku Minahasa dengan Perayaan Mapalus

Resized-GUTQF

Nama Mapalus memiliki kandungan arti saling memberi. Dalam pengertian umum yaitu suatu kerja sama tolong menolong dengan beberapa orang untuk kepentingan umum baik teroganisir ataupun tidak. Kegiatan ini dilakukan secara spontan dan tanpa paksaan. Bantuannya berupa tenaga, uang, atau hiburan yang secara pasti tanpa mengharap imbalan. Sifat tolong menolong ini merupakan sikap saling membalas dalam arti yang positif. Diantara hari Natal dan Tahun Baru, umumnya mereka kerja bakti untuk membersihkan kuburan.

2. Suku Dayak dengan Ritual Adat Ma’Mapas Lewu, Ma’arak Shur, dan Palus Mangantung Sahur Lewu

Resized-P6I8W

Ini merupakan bentuk kerjasama antara pemerintah Kota Palangka Raya dan masyarakat Suku Dayak Hindu Kaharingan untuk menggelar beberapa ritual adat dalam menyambut Tahun Baru 2017. Rangkaian upacara ini bertujuan untuk pembersihan diri dari perasaan yang mengotori hati dan pikiran selama tahun baru. Ritual ini dimulai dari hari Jumat hingga hari Minggu. Arti dari upacara Ma’mapas Lewu yakni untuk membersihkan wilayah dari pengaruh buruk yang dilakukan manusia dan roh jahat. Untuk upacara Ma’arak Sahur merupakan ungkapan syukur kepada Yang Maha Kuasa, Sahur Parapah, Antang Patahu, dan leluhur dalam memberikan perlindungan, kesehatan, dan kekuatan. Upacara Mangantung Sahur Lewu sebagai permohonan agar Kalimantan Tengah selalu terjaga dan terlindungi.

3. Suku Tengger dengan Upacara Unan-Unan

Resized-BG7DX

Acara ini terselenggara setiap lima tahun sekali. Pada tahun 2012, mereka mempersembahkan kepala kerbau yang ditempatkan di ancak dengan ubo rampe 100 tumpeng dan dilengkapi barbagai macam hasil bumi terbungkus dengan daun tlotok. Setelah prosesi upacara adat selesai, mereka berbondong-bondong menuju rumah kepala desa untuk makan bersama. Perasaan lega dan senang serta suasana akrab menghiasi saat acara ini. Persiapan upacara ini membutuhkan waktu yang lama dengan dana sukarela dari iuran masyarakat Desa Ngadas. Upacara ini merupakan bentuk penghormatan kepada alam semesta untuk menghindari malapetaka, serta merupakan bentuk syukur kepada penjaga sumber mata air yang memberikan manfaat selama hidup. Sehingga masyarakat Suku Tengger tidak akan pernah menebang pohon besar yang dibawahnya terdapat sumber mata air.

4. Suku Bena dengan Pesta Reba

Resized-EDZUU

Rangkaian acara ini dimulai pada bulan Desember. Puncak acaranya pada bulan Januari, dan berakhir pada bulan Februari. Pesta ini menggunakan ubi sebagai bentuk apresiasi warga karena merupakan sumber makanan bagi masyarakat Ngada yang diiringi tarian tradisional Besa Uwi. Selama acara, lagu O Uwi selalu turut mengiringi pesta tersebut. Para warga menyambut pelancong dengan ramah menggunakan Bahasa Indonesia yang lembut.

Pada malam hari, seluruh anggota berkumpul untuk mendengarkan nasehat dari Bapak Rumah atau wakilnya yang bermakna kurang lebih seperti padi semakin berisi semakin merunduk. Anak anak menghormati orang tua yang selama ini bekerja keras untuk menanam dan merawat padi untuk generasi selanjutnya. Para warga tetap tidak bermalas-malasan untuk menjaga lahan padinya supaya waspada akan bahaya yang mucul seperti pencurian. Ketika melewati batas ladang, sepatutnya tidak membicarakan orang lain, dan lebih baik bicara untuk hal yang berguna. Poin yang terakhir ialah tetap saling menjaga keakraban agar tercipta sikap tolong menolong dan bekerja sama untuk menjaga benih padi dan memikul ubi. Untuk para orang tua tetap melindungi, mendidik serta membimbing anak-anaknya hingga dewasa dan memiliki sikap yang baik.

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *