34 Tahun Pakai Arang karena Lebih Enak dan Aman

34 Tahun Pakai Arang karena Lebih Enak dan Aman

Bagi Anda yang ingin menikmati sensasi makan nasi campur gang buntu, jangan asal ke tempat tersebut. Meski hanya libur tiap hari Minggu, tapi nasi campur ini hanya buka dari jam 08.00 hingga pukul 14.00. Bahkan, karena laris manis, biasanya pukul 12 siang makanan yang dihidangkan sudah ludes terjual.
Perihal harga, Warung Gang Buntu cukup terjangkau dan sebanding dengan rasanya yang maknyus. Untuk nasi campur, pelanggan bisa memilih ayam atau sate komoh. Nasi campur dengan lauk ayam dibanderol dengan harga Rp 15.000 per porsi. Begitu pula dengan nasi campur dengan lauk sate komoh atau semur daging. ”Kami sebisa mungkin tidak menaikkan harga. Saat daging mahal, ya tidak jual daging,” kata Titik.
Titik saat ditemui di warungnya pada pukul 21.00 (17/2) kemarin juga mengijinkan Jawa Pos Radar Malang untuk mengintip dapur warung legendaris itu. Ada tiga kompor arang di depan tempat cuci piring. Di sela-sela wawancara, Titik tengah membuatkan nasi goreng untuk dua cucunya, Windya Sabila dan Maulana Nizan yang sering menemaninya memasak.
Saat ditanya mengapa warungnya bisa sangat laris, dia juga heran. Namun, lambat laun Titik akhirnya menceritakan keunggulan masakan di warungnya tersebut. Sejak tahun 1982, warung tersebut konsisten menggunakan arang.
Ada cerita unik di balik kisah tersebut. Riama, ibu angkat Titik yang merupakan pendiri warung ini takut untuk menggunakan kampor minyak gas, terlebih menggunakan gas elpiji. ”Takut meledak dan takut kebakaran kata ibu,” kata Titik.
Alasan tersebut membuat Titik akhirnya tetap menggunakan arang sejak warung ini berdiri 34 tahun silam. Perempuan yang memiliki tiga orang anak tersebut juga mendapatkan saran dari pelanggannya untuk mempertahankan memasak dengan arang lantaran cita rasa masakannya lebih khas.
”Selain karena masak dengan arang, Mungkin dari segi ukuran ayam yang besar dan rempah,” kata dia. Ketika masih hidup, ibunya selalu mewanti-wanti agar Titik jangan sekali-kali mengurangi rempah untuk bumbu. Saat ditanya bumbu apa saja yang dipakai, perempuan paro baya itu hanya menjawab bahwa itu resep turun-temurun dari orang tuanya.
Saat belanja ayam di pasar, perempuan yang suaminya meninggal pada tahun 2002 silam itu mengaku jika dia memilih untuk membeli ayam utuh. Alasanya, agar dia bisa memotong-motong ayam dengan ukuran yang sama. Kebanyakan, tempat makan lain memiliki ukuran ayam yang berbeda seperti halnya sayap lebih kecil, dan bagian dada lebih besar. Untuk menggoreng ayam, Titik yang dibantu dua saudaranya itu hanya menggunakan tepung yang sudah diberi rempah, tanpa diungkep. Dalam satu hari, warungnya menghabiskan ayam lebih dari 10 kilogram.
Untuk sate komohnya, dia hanya merebus daging sapi selama satu jam kemudian diberi bumbu merah. Yang menjadi ciri khas adalah semur daging Warung Nasi Campur Gang Buntu itu menggunakan potongan cabai dan tomat. ”Rasanya lebih segar dan pedas tentunya, orang-orang kan sukanya pedas sekarang,” ungkap dia.
Titik memasak sate komoh dan semur daging mulai pukul delapan malam hingga sebelas pagi. Jika ada orderan lebih, dia bahkan pernah sampai tidak tidur. Pagi setelah subuh dia berbelanja ayam dan sayur, sementara saudaranya menyiapkan nasi. Setelah dari pasar, barulah dia memasak untuk sayur sup dan urap-urap. Tak lupa dia memanaskan semur daging yang dia masak semalam. Saat memasak ayam goreng, dia menunggu pukul 8 saat warungnya buka. ”Kebanyakan pembeli itu minta ayam goreng yang hangat, ya kami layani seperti itu,” kata dia.(rae/riq)

sumber : http://radarmalang.co.id/34-tahun-pakai-arang-karena-lebih-enak-dan-aman-31690.htm

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *